Siapa Sangka, Pengayuh Becak ini Punya Anak Dokter dan Mahir Bahasa Mandarin


SERANG, bantenhariini.com – Kerap dipandang sebelah mata saat mengayuh becak, tidak membuat Masnah (46) rendah diri. Dia tetap semangat dan menghiraukan itu semua. Baginya, keikhlasan kerja dan halal menjadi patokan untuk keluarga dan hidup yang berkah.

Atas prinsipnya itu, pria kelahiran Ciasem, Pandeglang ini sukses mengantarkan anaknya menjadi seorang dokter. “Bagi saya uang halal itu nomor satu, Alhamdulillah dengan cara halal saya bahagia bisa menyekolahkan anak sampai jadi dokter,” ungkap Misnah saat ditemui bantenhariini.com di depan sekolah Mardiyuana, Serang, tempat dia biasa mangkal.

Masnah menceritakan, dirinya meninggalkan tanah kelahiran dengan hanya bekal sekolah kelas tiga sekolah dasar ke Kalimantan Barat. Dalam perjuangannya bekerja di rantau, dia berhasil memiliki dua hektar tanah yang ditanami sawit. Berbekal kebun ini pula dia merangkak lebih baik secara ekonomi hingga menemukan pujaan hati dan memperistri hingga memiliki anak. Hasil kebun tersebut sebagian untuk biaya sekolah anak pertamanya hingga menyelesaikan kuliah dan menjadi dokter yang saat ini bertugas di Kalimantan.

Kehendak lain dari yang Maha Kuasa terjadi, sang istri meninggal dunia saat melahirkan anak ke dua. Tempat tinggal mereka di Kalimantan jauh dengan rumah sakit yang harus ditempuh dengan perahu untuk menyeberangi sungai. Karena peristiwa tersebut, dia membesarkan dan menyekolahkan anaknya seorang diri hingga kuliah karena tak mau anaknya tidak sekolah sepertinya. “Saya besarkan dan sekolahkan anak saya supaya tidak bodoh seperti bapaknya,” ungkap Masnah.

Pernikahan dengan almarhumah istri pertamanya yang keturunan Tionghoa, menjadikan Masnah mahir berbahasa Mandarin. Namun di tempatnya mangkal dia kerap diacuhkan meski menawarkan layanan becaknya dengan Bahasa Mandarin kepada penumpang yang banyak warga keturunan di sekolah tersebut. “Kadang penumpangnya gak percaya dan acuh dengan bahasa Mandarin yang saya pakai,” kata Masnah.

Tuntutan psikologis dan naluri perantaunya mengantarkan Masnah kembali ke Banten. Sementara anaknya kuliah di Kalimantan dengan biaya kuliah dari hasil panen sawit. “Dia sekarang kerja di rumah sakit di sana,” ujarnya.

Menjadi pengayuh becak menjadi pilihan Masnah karena tidak memiliki keterampilan khusus sejak tahun 1998. Setiap pagi Masnah keluar dari rumahnya di komplek Lopang Indah, Kota Serang untuk menarik becak. “Bayar rumah itu hanya diangsur lima kali. Pertama saya DP 31 juta, kemudian 20 juta dan seterusnya,” kata Masnah.

Pengalaman tidak mengenakan pernah dialami ketika diacuhkan oleh pelayan saat akan membeli sepeda motor di dealer kawasan Ciceri, Kota Serang. “Waktu itu saya dianggap orang gila karena tanya harga motor sambil bawa becak,” ungkapnya. Karena jengkel, Masnah mengeluarkan uang Rp31 Juta dari kantong plastik yang dibawanya. (Arif)

 

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *