Rupiah Melemah Dekati Rp17.600 per Dolar AS, Tekanan Global Jadi Faktor Utama


BANTENHARIINI.ID– Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan mendekati level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Pelemahan tersebut memicu perhatian publik karena terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik internasional.

Sejumlah pengamat menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dibanding sentimen domestik.

Penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dolar AS Menguat, Mata Uang Asia Ikut Tertekan

Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan sejumlah mata uang Asia lainnya.

Negara-negara berkembang menghadapi arus keluar modal asing akibat investor global memilih aset yang dianggap lebih aman di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut dipicu tingginya suku bunga The Fed yang membuat dolar AS semakin kuat.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap negara importir energi seperti Indonesia.

Akibatnya, permintaan dolar meningkat sementara mata uang regional mengalami pelemahan secara bersamaan.

Faktor Global Dinilai Lebih Dominan

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibanding faktor politik dalam negeri.

Menurut dia, pasar keuangan internasional sangat sensitif terhadap data inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta perkembangan geopolitik global.

Karena itu, fluktuasi rupiah dinilai merupakan bagian dari dinamika pasar global yang juga dialami banyak negara berkembang lainnya.

Harga Minyak dan Geopolitik Ikut Membebani Rupiah

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, Indonesia membutuhkan lebih banyak devisa ketika harga minyak naik.

Situasi geopolitik global yang belum stabil juga meningkatkan kekhawatiran pasar.

Investor cenderung memindahkan dana ke instrumen safe haven seperti dolar AS sehingga mata uang emerging market mengalami tekanan.

Kondisi ini membuat rupiah bergerak melemah seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Pelemahan Rupiah Bukan Fenomena Baru

Tekanan terhadap rupiah sebenarnya bukan pertama kali terjadi.

Dalam berbagai periode krisis global sebelumnya, nilai tukar rupiah juga sempat melemah tajam akibat faktor eksternal.

Pada masa pandemi COVID-19 hingga konflik Rusia-Ukraina, penguatan dolar AS dan capital outflow menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas rupiah.

Hal serupa juga pernah terjadi pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono maupun Joko Widodo ketika pasar global mengalami gejolak besar.

Publik Diminta Cermati Kondisi Ekonomi Secara Objektif

Sejumlah analis mengingatkan masyarakat agar melihat pelemahan rupiah secara lebih objektif dan berbasis data ekonomi global.

Nilai tukar mata uang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kebijakan moneter Amerika Serikat, harga komoditas dunia, hingga kondisi geopolitik internasional.

Karena itu, pelemahan rupiah dinilai merupakan persoalan ekonomi global yang kompleks dan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu isu tertentu.***

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *