Sepi Pembeli dan Sering Digoda PSK, PKL Enggan Pindah ke Kepandean


SERANG, bantenhariini.com – Para Pedagang Kaki Lima (PKL) Stadion Maulana Yusuf (MY) menolak relokasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Serang untuk beralih dagang ke kawasan Kepandean. Hal itu dikarenakan mereka tidak nyaman dengan kondisi yang ada di Kepandean. Lebih dari itu, kondisi pembeli yang sepi terpaksa membuat mereka kembali pindah ke tempat semula.

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya PKL yang kembali berdagang di sekitar Stadion MY. Meskipun para PKL saat ini berdagang karena adanya kegiatan bazar di bulan Ramadan yang disebutkan merupakan program dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Serang, namun PKL tetap enggan untuk pindah saat kegiatan bazar tersebut usai. Demikian dikatakan oleh salah satu PKL di Stadion MY, Suhar, saat ditemui di lapaknya, Selasa (28/5).

Menurutnya, saat ini penggunaan Stadion MY sebagai lapak untuk PKL berdagang sudah tepat. Karena jika dibandingkan dengan di Kepandean, pendapatannya terlampau jauh berbeda.

“Berbeda Mas, di sini kami laku. Lagi pula masyarakat kota Serang sudah tahu kalau stadion ini ya tempat belanja, nongkrong, dan sebagainya,” ungkapnya.

Selain itu, kata Suhar, maraknya oknum yang diduga sebagai preman kerap kali bermabuk-mabukan di Kepandean. Sehingga timbul rasa tidak nyaman dari pedagang maupun pembeli. “Bukan rahasia umum lagi Mas di sana dijadikan tempat mabuk,” jelasnya.

Hal senada dikatakan oleh Heri, salah satu PKL. Heri yang kesehariannya berjualan pakaian tersebut mengaku dalam satu minggu, dirinya hanya bisa menjual sehelai baju.

“Jujur saya Mas, di sana dalam seminggu cuma bisa jual satu helai aja. Mana bisa kami bertahan,” kata Heri dengan kesal.

Menurutnya, pendapatan itu berbeda jauh apabila dibandingkan dengan saat berjualan di Stadion. “Jauh lah Mas, kami di sini bisa dapat untung yang banyak. Kalau di sana enggak,” tukasnya.

Selain itu, banyaknya wanita yang diduga wanita tunasusila (PSK-red) membuat istri dari banyak pedagang menjadi khawatir. Karena tak sedikit kasus para wanita diduga tunasusila tersebut mendatangi lapak dan menawarkan dirinya.

“Awalnya seolah-olah mau belanja. Tapi akhirnya nawarin diri. Ini kan bikin para istri menjadi khawatir terhadap suaminya,” ujar Heri. (FEB)

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *