Program 100 Hari Kerja Dinilai Gagal, Puluhan Mahasiswa Lakukan Aksi


SERANG, bantenhariini.com – Menjelang akhir masa 100 hari kerja Walikota dan Wakil Walikota Serang diwarnai dengan aksi unjuk rasa dari puluhan Serikat Mahasiswa Sosialis Demokratik (SWOT), didepan kampus UIN “SMH” Banten, Jum’at (8/3/2019).

Aksi tersebut, dalam rangka mengevaluasi program 100 hari kerja Walikota dan Wakil Walikota Serang terpilih. Mereka menilai program 100 hari kerja yang dicanangkan belum terealisasikan.

Humas Aksi, Nahrul Muhilmi mengatakan, bahwa sejak dilantik menjadi Walikota dan Wakil Walikota Serang, Syafrudin-Subadri masih belum maksimal menjalankan roda Pemerintahan Kota Serang.

“Konsep yang ditawarkan untuk menata Kota Serang menganulir kesejahteraan rakyat kecil. Seperti Kebijakan relokasi PKL, tidak sepenuhnya dijalankan. Parameter kerja dalam perda Kota Serang No. 4 Tahun 2014 tidak diimplementasikan,” ujarnya.

Lanjut Nahrul, 2 Januari lalu merupakan bentuk ketidak berpihakanya Pemkot Serang terhadap masyarakat kecil, khususnya PKL Stadion.

“Bisa dilihat bagaimana keberlangsungan hidup PKL stadion. Penggusuran yang berkedok relokasi tersebut menghabiskan seluruh lapak PKL. Bahkan sampai saat ini nasib para PKL masih belum pasti,” jelasnya.

Nahrul juga menilai, janji Walikota terhadap kesejahteraan masyarakat kecil adalah omong kosong. Terbukti dari kebijakan relokasi PKL, sampai sekarang masih belum dinikmati. Bahkan bisa dibilang, Pemkot Serang malah membuat masyarakat Serang menjadi miskin.

“Rakyat kecil yang mencari rezeki dipaksa untuk tunduk oleh kebijakan Pemkot yang tidak proaktif terhadap rakyat. Tindakan sepihak yang mengedepankan percepatan pembangunan justru melupakan sisi kemanusiaan. Hingga akhirnya PKL yang menjadi tumbalnya, ” tegasnya.

Selain itu, ia juga mengkritisi, penanganan sampah yang berada di Kota Serang. Menurutnya, Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong sudah tidak layak untuk dijadikan TPSA. Sebab, jika dipaksakan akan terjadi longsor seperti Desember lalu.

“Kami sudah melakukan investigasi. Disana sampah itu sudah menggunung lagi. Masyarakat setempat hawatir akan terjadi longsor seperti Desember kemarin,” jelasnya.

Kemudian dalam aksi tersebut sempat diwarnai kericuhan, saat masa aksi ingin membakar ban sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerja Pemkot Serang. Terjadi bentrokan dengan pihak kepolisian.

Alhasil, dua orang masa aksi bernama Firman berdarah dibagian bibir dan Atma Jaya tercekik di lehernya. (FEB)

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *