CILEGON, bantenhariini.com – Hasbunah, biasa orang menyebutnya Pak Bunah, usianya sekitar 75 tahun. Sudah puluhan tahun kakek tua itu tinggal di gubuk reyot.
Pak Bunah hidup sebatang kara, untuk mengisi perut ia mengandalkan belas kasih para tetangga di Lingkungan Jeruk Tipis RT 001 RW 003, Kelurahan Bulakan, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon.
Gubuk yang ia tinggali terbuat dari pagar bambu dilapisi beberapa kain spanduk bekas. Kain itu berguna untuk menahan dinginnya udara malam hari.
Di beberapa sisi dinding gubuk itu bolong, pun begitu dengan atapnya. Gubuk yang ia diami puluhan tahun itu berukuran sekitar 2×2 meter. Seingatnya, 30 tahun lebih ia hidup sebatang kara di gubuk yang berada di pinggir kebun tersebut.
“Puluhan tahun, 30 tahun juga ada, cuma lagi mudanya itu merantau ke Lampung. Cukup buat tidur, cuma barang bocor mah gentengnya itu atuh nggak bisa tidur,” kata Pak Bunah menceritakan keadaannya kepada wartawan, Kamis (29/11/2018).
Kondisi Pak Bunah bisa dibilang terjerat oleh kemiskinan, tak ada beras dan kompor di gubuknya. Untuk mandi saja, ia harus menumpang di rumah saudaranya yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Jeratan kemiskinan itu ditambah dengan kondisi fisiknya yang sudah renta. Matanya sudah tak bisa melihat. Sejak matanya mengalami masalah penglihatan, ia tak pernah mendapat bantuan operasi.
Orang-orang yang datang tak bisa ia kenali, hal itu lantaran matanya yang tak lagi awas melihat keadaan sekitar. Saban hari, hidupnya dihabiskan dengan duduk dan berbaring di gubuk reyot.
“Sakit mah nggak (matanya) cuma nggak bisa ngeliat, nggak tau sakit apa ini,” ujarnya.
Selama puluhan tahun hidup di gubuk reyot, Pak Bunah tak pernah tersentuh bantuan pemerintah. Jangankan bantua bedah rumah, sekadar makan pun ia harus menunggu balas kasih jiran.
(Rvk/Asp/Detikcom)

0 Comments