SERANG, bantenhariini.com – Beredarnya dugaan pungutan pengambilan jenazah korban tsunami sebesar Rp 3,9 juta, Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah langsung melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) Kabupaten Serang, yang terletak di Alun-alun Kota Serang, Kamis (27/12/2018).
Dalam kunjungannya, Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah memastikan kebenaran adanya dugaan pungutan sebesar Rp 3,9 juta. Dirinya pun menanyakan secara langsung kepada para pasien korban tsunami yang di rawat di RSDP Kabupaten Serang. “Saya tidak menemukan adanya pungutan, dan setiap pasien bilangnya bahwa gratis tanpa ada biaya sedikit pun. Bahkan saya melihat kondisi di IGD, korban tsunami sudah masuk ke ruangan perawatan semua. Saya juga melihat ke ruang perawatan, kondisinya luar biasa perkembangannya membaik,” katanya.
Pada kesempatan itu pun, Tatu pun memberikan semangat kepada para korban tsunami, agar kuat menjalani musibah yang sedang terjadi. Bahkan, dirinya mengaku sangat berterima kasih kepada para tenaga kesehatan dan tim medis RSDP yang tak kenal lelah menangani korban bencana tsunami Selat Sunda. “Saya pun sangat kagum dengan semangat satu pasien yang mengkhawatirkan, karena harus menjalani operasi hingga sembilan jam. Tidak lupa saya juga berterimkasi dengan tenaga medis di RSDP yang terus berusaha untuk mengobati pasien korban tsunami,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Direktur RSDP Kabupaten Serang, Sri Nurhayati menegaskan, bahwa adanya pembiayaan dan kwitansi yang beredar di media massa, bukanlah kwitansi resmi RSDP. Hal itu pun di luar sepengetahuan manajemen dan direksi RSDP. “Kami tegaskan, bahwa kwitansi yang beredar itu bukan resmi milik RSDP. Hal ini pun di luar sepengetahuan kami manajemen dan direksi RSDP,” ungkapnya.
Sri Nurhayati menjelaskan, aparatur, tenaga kesehatan, dan tim medis RSDP sudah semaksimal mungkin bekerja sesuai standar operasional dalam menangani para korban bencana. “Semua korban tsunami yang datang dan memerlukan pertolongan, membutuhkan pelayanan, sudah dilayani semaksimal dan seoptimal mungkin. Kami pun sesuai dengan prosedur, tanpa ada biaya sedikit pun terhadap korban atau keluarga korban bencana tsunami Selat Sunda,” tegasnya.
Lanjut Sri Nurhayati, bahkan hampir semua Doter turun tangan dalam menangani korban bencana, tanpa lelah selama 24 jam bergiliran memberikan pelayanan. Bahkan ada yang membatalkan cuti akhir tahun. “Ada 57 dokter spesialis bahu-membahu, tanpa kenal lelah. Belum Dokter umum yang ada di IGD, kurang lebih 100 Dokter bekerja maksimal. Belum lagi ada Dokter bantuan dari RSCM, sudah membantu pelayanan di RSDP. Jadi semua pelayanan kami optimalkan,” tandasnya.
Seperti diketahui, informasi dari RSDP Kabupaten Serang, korban yang dirawat di RSDP sebanyak 125 pasien, dan korban meninggal yang ditangani instalasi forensik dan medikolegal sebanyak 27 orang dan telah dibawa oleh keluarganya. Kemudian yang dirawat ada 36 orang dengan kondisi relatif membaik. (FEB)

0 Comments