Oleh | Indra Kusumah
Piye kabar hidung njenengan? Mudah mudahan sehat wal afiat, ndak kurang satu apapun. Njih, apakah lubangnya masih dua? Atau ada sisa upil yang belum dibersihkan? Sip, kalau masih dua dan sudah dibersihkan. Apakah bulu bulu hidung yang keluar dari lubang hidung sudah juga di potong? Oke kalau sudah, oya satu lagi, soal komedo atau jerawat yang nangkring di hidung, apakah juga sudah dibersihkan dan kempis? Kalau semua sudah, mugi njenengan sedang ndak terserang flu atau mimisan. Njih, apakah hari ini sudah disapa hidung njenengan? Kalau belum maka sapalah, kelak ketika dihisab nanti, semua organ tubuh— termasuk hidung akan ikut menjawab pertanyaan malaikat. Ngilu, kalau hidung njenengan ndak kenal siapa empunya musabab selama menghiasi rupa cantik dan menawan, ia ndak pernah njenengan sapa. Ndak saling kenal ketika dihisab, kan repot. Yuks mulai sekarang sering sering menyapanya, misal, “Selamat pagi hidungku, mugi sehat selalu. Jangan lupa terus mengingatkan daku untuk menghirup udara dan mencium wewangian dengan jujur.”
Njih, hidung adalah elemen pundamen dalam rupa esensi wajah. Punya tugas dan tanggung jawab secara estetika, biologis dan kultural. Ketiga nilai tersebut membuktikan bahwa Gusti Allah sangat serius menjadikan njenengan sebagian mahluk paling sempurna. Secara estetis, letak hidung yang berada di antara dua cekungan mata dan mulut, serta bentuknya yang meninggi di antara keduanya—-melahirkan pola estetis pada wajah; ialah lekukan dan gelombang wajah. Estetika semacam itu dengan apik dan serius oleh Gusti Allah yang maha indah diciptakan agar njenengan bersua dengan nilai nilai keindahan. Bisa dibayangkan jika hidung njenengan sama sejajarnya dengan mulut dan mata, maka wajah njenengan dipastikan datar dan nge-flat. Ndak asik bukan untuk dinikmati?
Njih, secara estetika pula, bentuk hidung diciptakan Gusti Allah dengan beragam itu; mancung, mancung sekali, pesek, pesek lebar, pesek kecil, agak bulat, dan ragam type lainnya. Semua bentuk bentuk itu memiliki persefektif estetika dan fungsinya. Tetapi, apapun bentuknya, njenengan ndak bisa memesan sekehendak diri, itu wilayah teretori Gusti Allah dan patut untuk disyukuri. Keberagaman bentuk dan estetika hidung cermin nilai nilai ilahiah agar njenengan mensyukuri nikmat perbedaan—-pondasi untuk saling mengenal, mengasihi dan mempererat persaudaraan. Musabab perbedaan, si empu hidung mancung ndak perlu repot ngenyek ngenyek si pesek, si empu hidung pesek ndak perlu iri sama si mancung, dsb. Pesek dan mancung itu fitroh dan menjadi mesin paling canggih bagi anatomi tubuh. Hebatnya, mesin tersebut belisensi langsung dari Gusti Allah. Sekali lagi patut disyukuri dan keren kan?
Njih, sebagi bagian dari penanda nilai nilai kultural, hidung yang njenengan miliki mengidentifikasi karakteristik dan identitas; timur, barat, selatan atau utara—Asia, Afrika, Eropa, Arab dll. Asik bukan? Menyoal perbedaan hidung saja Gusti Allah sudah memberikan ilmu pengetahuan tentang ragam karakter umat manusia ( kalau ndak salah ada ayat yang menegaskan mengapa njenengan diciptakan berbeda beda, ngahapunten aku ndak hapal ayatnya). Dan tentu nilai dari pengetahuan tersebut, dimaksudkan agar mendekatkan njenengan pada kesadaran dan kesalahan sosial kultural menuju hakikat kemanusiaan—memanusia. Termasuk menghantarkan setiap njenengan pada keindahan ilahiah atas penciptaan (duh, kok tulisan ini udah kayak kutbah yah? ). Tetapi kalau njenengan masih protes terhadap bentuk hidung yang dimiliki, maka di zaman serba canggih, serba kemasan dan berujung komoditas, njenengan bisa merenov hidung sakarep karepmu—-seestetis mungkin. Operasi plastik, dll. Dan jika selepasnya hidung njenengan masih belum estetis, cobalah operasi karet, kaleng, besi, baja dll.
Di zaman now, dimana kemasan lebih esensial dibandingkan nilai. Lebih seksi dibandingkan makna. Bentuk apapun hidung njenengan menjadi indra terpenting bagi jasad, ialah pintu utama bagi oksigen yang njenengan butuhkan untuk menerus hidup. Tidak itu saja, agar udara yang dihirup menjadi paripurna, bulu bulu hidung njenengan ikut bekerja memfilter debu serta udara kotor yang dihirup. Dan yang utama, fungsinya sebagai alat fital untuk mencium wewangian, aroma serta bau tak sedap—–kian memosisikan hidung njenengan menjadi lebih paripurna, ialah menjadi bagian penting dari panca indra. Sebagai bagian penting yang kian seksi itu, maka, selain mencium aroma sedap makanan dan wangi parfum, sudah njenengan didik apa saja? Apakah njenengan sering mengajarkannya untuk mencium bau ketek, bau kentut, bau kebohongan, bau fitnah, bau sok moral, bau sok jujur, dll, jika belum? Patut segera njenengan latih. Ditempa mental jiwanya agar hidung njenengan kian berdaya di hadapan hidup yang kian pura pura serba wangi ini. Terutama dilatih kemampuan mengelola insting terhadap apa yang dihirup, diendus dan dicium. Memilah kemampuan insting tersebut, memberi ruang keselarasan bagi mata, bibir, mulut, telinga, otak kanan kiri, rasa dan jiwa untuk bersikap lebih hati hati dalam perkara apapun. Keselarasan ini penting, musabab di zaman now—-yang nyata dan samar kian merasa jauh lebih benar dari hakikat kebenaran itu sendiri. Musabab disesaki “Merasa jauh lebih benar” njenengan patut bersikap hati hati menghirupnya.
Njih, ini sekelumit kecil soal perkara hidung. Dan menyoal hidung, pasti insting njenengan sedang atau sudah mengendus endus bahwa catatan ini akan ikut ikutan memenuhi kegemaran kita meriuhkan dan memperdebatkan persoalan yang belakangan sempat viral, ialah kabar seorang artis yang memilih melepaskan identitas berhijabnya dan respon seorang ustad yang menyasar pada soal hidung dan dialamatkan kepada artis tersebut. Jika itu kualitas mengendus njenengan terhadap catatan ini, maka njenengan dalam kekeliruan memungsikan kualitas dan fungsi hidung njenengan, seperti bagaimana kekeliruan njenengan mengamini diri untuk menerus memutuskan “tunjuk hidung” terhadap semua hal yang seolah olah nyata padahal samar, atau sebaliknya. Sebagai komoditas yang serba kagetan dalam mengendus komoditas lainnya, agar organ lahir batin njenengan sehat wal afiat maka kegemaran menghirup apapun patut menerus diasah. Menerus diasah untuk ndak dimiskinkan dalam mengurai perbedaan dan memupuk wibawa dalam hujat menghujat. Tetapi apapun itu, suer, meski njenengan bukanlah siapa siapa bagi kehidupan ini, bukan presiden, gubernur, walikota, bupati, wakil rakyat, jaksa, politisi, birokrat, artis, ustad, publik figur dll, bentuk hidung njenengan tetap indah dan seksi. Dan Gusti Allah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Suer.
Wis ngono wae
Penulis | Pemerhati budaya, kartunis dan Ketua Majelis Kebudayaan Cilegon.

0 Comments