Santri Agar Kembali Kepada Jatidirinya


TANGERANG, bantenhariini.com – Krisis identitas telah lama dialami santri. Sikap berani, cerdas dan santun mulai luntur dalam diri santri. Demikian hal itu terungkap dalam Haloqah Kebangsaan Santri yang digelar Pondok Pesantren Darussalam, di Komplek Ponpes tersebut di Poris Jaya,  Batuceper,  Kota Tangerang, Senin (18/9/2017). Kegiatan yang diikuti kurang lebih 150 santri itu diikuti antusias oleh mereka.  Seperti mereka banyak bertanya apa peran santri saat ini.

Akhmad Bahrul Hikam dari Ponpes Darussalam mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan kontributor utama dalam menegakan kemerdekaan. Saat itu para santri memiliki keberanian dan sikap mulia.  “Tapi sekarang merasa termarjinalkan,” katanya.

Sebab itu,  kata Bahrul,  lewat kegiatan haloqah ini santri bisa kembali ke jatidirinya.  Bisa memberikan hal positif dalam mengisi kemerdekaan.

Ketua FKUB Kota Tangerang Amin Munawar mengatakan, bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragama.  Ciri bangsa beragama itu masyarakatnya religius dan berilmu.  “Ini karena tidak lepas dari keberadaan santri di dalamnya, ” katanya.

Sementara, aktivis Islam Tb Muhammad Solehudin mengatakan,  bahwa sebanyak 60 persen pergerakan Islam melawan kolonial ada di Banten. Tapi hal ini tidak terungkap. “Maka ini jadi tanggungjawab kaum santri di Banten untuk membangkitkan itu,” katanya.

Menurutnya, saking banyaknya pergerakan Islam dan semangatnya masyarakat Banten melawan penjajah, akibatnya setiap benteng pertahanan dihancurkan oleh kolonial.  Misalnya Keraton Kasuroan yang ada di Banten Lama.

Akhmad Murod, dari perwakilan santri,  mengharapkan agar pemerintah memperhatikan para santri dan lembaganya. Karena keberadaan santri merupaksn garda terdepan. “Jadi santri juga punya kontribusi,” katanya. (Setia)

 

Editor: Wayang

 

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *