BANTEN, Bantenhariini.id – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten masa khidmat 2025-2030 telah dilantik di Alun-alun Barat Kota Serang, pada Senin (25/8) kemarin.
Pelantikan ini disaksikan langsung oleh Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, dan Mustasyar PWNU Banten Abuya Muhtadi Dimyati.
Di bawah komando KH Hafis Gunawan, yang merupakan salah satu tokoh muda, akan memimpin PWNU Banten di lima tahun kedepan. Terutama memperkuat peran organisasi dalam pembangunan umat dan menjaga keberlanjutan tradisi Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah di Banten.
Usai dilantik, KH Hafis Gunawan menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mengembalikan marwah NU di Banten.
“NU Banten harus bangkit, kita kembalikan marwah NU ke Banten ini,” tegasnya, saat sambutan.
Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Hafis Gunawan
Kiai Hafis lahir di Jakarta, 13 Mei 1975. Pada usia belia dan remaja, ia menempuh pendidikan agama selama 9 tahun di Pondok Pesantren Al Hikmah Curug, Kabupaten Tangerang, dan 3 tahun di Pesantren Nurul Huda, Kota Serang. Ia juga alumnus MAN 2 Serang.
Menariknya, Kiai Hafis bukan berasal dari latar belakang pendidikan agama semata. Ia merupakan sarjana Matematika di STKIP Kusuma Negara Jakarta pada 2006.
Namun, latar belakang akademik tersebut justru memperkaya pendekatannya dalam mengelola organisasi keagamaan dan pendidikan pesantren.
Kemudian, ia mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Khaer, yang berlokasi di Babakan, Sukabakti, Curug, Kabupaten Tangerang. Pesantren ini berdiri sejak 2008, berawal dari kegiatan ngaji sorogan sederhana dengan hanya lima santri.
“Pesantren sudah 16 tahun,” ucap Kiai Hafis, dikutip melalui NU Online Banten, Selasa, 26 Agustus 2025.
“Awalnya hanya 23 santri. Lalu berdiri madrasah tsanawiyah dan aliyah. Dulu siswa-siswinya pulang pergi, sekarang sudah berasrama. Jadi sekolah mondok di sini,” sambungnya.
Kini, pesantren tersebut membina sekitar 1.900 santri dan terus berkembang, tidak hanya dari segi jumlah, tapi juga lembaga pendidikannya.
Pada 2012, Kiai Hafis mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan dua jurusan: Teknik Komputer dan Jaringan, serta Administrasi Perkantoran.
Pengembangan pesantren juga dilakukan hingga memiliki dua cabang lain di Ranca Iyuh, Panongan, Kabupaten Tangerang. Lahan pesantren utama di Babakan kini mencapai luas satu hektare, sedangkan dua cabang masing-masing seluas 6.000 dan 8.000 meter persegi.
Sehingga, Kiai Hafis dikenal masyarakat sebagai sosok istikamah yang konsisten membina ribuan santri.
Untuk menjaga nilai-nilai tradisional, metode pembelajaran klasik seperti sorogan dan kajian kitab kuning tetap dipertahankan.
Beberapa kitab yang rutin diajarkan antara lain I’lal, ’Awamil, dan Jurumiyah. Kiai Hafis juga mengelola program tahfiz Al-Qur’an sebagai bagian dari pendidikan keagamaan di pesantrennya.
“Dari awal sampai sekarang, kekhasannya tetap kuning. Masih ada ngaji sorogan,” ujar ayah lima anak ini.
Dalam hal keilmuan, ia banyak terinspirasi dari KH Muhtadi dari Pandeglang, Banten, yang merupakan bagian dari jalur sanad keilmuannya.
Meski kini telah dipercaya menakhodai PWNU Banten, Kiai Hafis menyimpan cita-cita yang tak kalah besar. Di antaranya adalah mendirikan perguruan tinggi umum serta pesantren khusus untuk para lanjut usia (lansia).
“Di antara pesan guru saya, punya santri banyak jangan bangga, santri sedikit jangan sedih,” tuturnya. (Roy)

0 Comments