Nonton Film G30S/PKI, TB Hasanuddin: Jangan Memperlemah Persatuan dan Kesatuan Bangsa


JAKARTA, bantenhariini.id – Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mengimbau agar masyarakat tak perlu resah soal pemutaran film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ di televisi atau ditempat lain .

Politisi PDI Perjuangan ini mempersilakan masyarakat untuk menyaksikan atau pun tidak menyaksikannya .

“Kalau nanti film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ itu diputar di televisi ya terserah masyarakat mau nonton atau tidak , jangan dipermasalahkan . Ini kan negara demokrasi,” kata Hasanuddin melalui sambungan telepon.

Hasanuddin menambahkan, soal film itu diputar dimana dan kapan, di Indonesia itu ada aturannya.

“Kalau film itu ditayangkan di televisi, disamping ada LSF ( Lembaga Sensor Film ) yang menyensor , juga ada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengawasinya , kedua lembaga ini sah berdasarkan UU ,” ujarnya.

Menurut dia, urusan materi film apapun, termasuk film Pengkhianatan G30S/PKI, di Indonesia telah memiliki perangkat aturan perundang-undangannya. Kalau bicara film, kata dia, ada lembaga sensor film.

“Soal materi film, lembaga sensor film yang memiliki wewenang apakah layak tayang atau tidak. Biarlah mereka yang menilai, kita percayakan pada mereka karena itu lembaga yang sah dan dilindungi Undang-Undang,” bebernya.

Ia menegaskan, ada hal yang lebih penting dibandingkan memperdebatkan soal nonton atau tidak nonton film Pengkhianatan G30S/PKI.
Apalagi, kata Hasanuddin, setiap tahun menjelang tanggal 30 September maka isu-isu soal komunis kembali menghangat.

Karenanya, Hasanuddin mengajak untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai (NKRI).

“Masyarakat tidak usah terlalu meributkan rencana pemutaran film G30S/PKI ini. Karena masih banyak permasalahan bangsa seperti pandemi covid-19 yang harus dipikirkan dan dicarikan solusi bersama. Mari kita tetap jaga persatuan dan kesatuan,” tandasnya.

Film “Pengkhianatan G30S/PKI” hingga saat ini masih menjadi kontroversi lantaran sejarah peristiwa Gerakan 30 September 1965 belum terkuak sepenuhnya.

Film ini diproduksi Perum Perusahaan Film Negara (PPFN) pada 1984 ini kerap disebut sebagai propaganda ala rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto kala itu.

Di zaman pemerintahan Soeharto, film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer ini rutin diputar setiap tahun dan dihentikan setelah pemerintah Orde Baru tumbang akibat gelombang Reformasi 1998.

Namun, beberapa tahun belakangan, beberapa pihak, bahkan pejabat negara dan stasiun televisi, kembali memutarnya. (*)


Like it? Share with your friends!

338
338 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format