LEBAK, BANTEN, Bantenhariini.id – Ada pesan budaya yang menarik dalam peringatan Milad ke-8 Perkumpulan Urang Banten (PUB) di Tanah Adat Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Ahad (25/10/2026). Jika selama ini masyarakat adat Baduy dikenal menjalankan tradisi Seba Baduy dengan mendatangi pemerintah sebagai bentuk silaturahmi dan penyampaian amanat adat, kali ini suasananya berbeda. Gubernur Banten Andra Soni hadir langsung di tengah masyarakat Baduy dalam kegiatan Baduy Lestari dan Milad ke-8 PUB.
Kunjungan tersebut dapat dimaknai sebagai “Bapak Gede Saba Baduy”, sebuah ungkapan simbolis tentang hadirnya pemimpin atau pemerintah untuk menyambangi masyarakat adat di ruang kehidupannya sendiri. Jika Seba Baduy memperlihatkan masyarakat adat datang menemui pemerintah, momentum ini menghadirkan gambaran sebaliknya: pemerintah datang untuk bersilaturahmi, melihat kehidupan masyarakat, serta memperkuat kepedulian terhadap kelestarian alam dan budaya Baduy.
Kegiatan yang dipusatkan di Rumah Kajaroan Kanekes, Kampung Kaduketug, tersebut berlangsung dalam rangkaian Gerakan Baduy Lestari yang mengusung tema “Menanam Harapan, Menjaga Kehidupan”. Gubernur Banten Andra Soni hadir bersama Ketua Umum PUB Komjen Pol. (Purn.) Taufiqurrahman Ruki, S.H., beserta jajaran pengurus PUB dan sejumlah pemangku kepentingan.
Dalam tradisi masyarakat Baduy, Seba Baduy merupakan kegiatan adat tahunan yang mempertemukan masyarakat Baduy dengan pemerintah. Masyarakat membawa hasil bumi sebagai bagian dari tradisi, sekaligus menyampaikan pesan mengenai kehidupan, kondisi alam, dan harapan masyarakat adat.
Tradisi tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial. Seba Baduy mengandung nilai penghormatan, komunikasi, tanggung jawab, dan hubungan antara masyarakat adat dengan pemerintah.
Adapun ungkapan “Bapak Gede Saba Baduy” dalam momentum Milad PUB ke-8 menjadi cara menarik untuk menggambarkan kunjungan pemimpin daerah ke wilayah adat Baduy. Istilah ini digunakan sebagai pemaknaan simbolis atas arah silaturahmi yang berbeda, bukan sebagai pengganti atau perubahan terhadap tata cara resmi tradisi Seba Baduy.
Kehadiran Gubernur Banten di Tanah Adat Baduy membawa pesan bahwa menjaga hubungan dengan masyarakat adat tidak hanya dilakukan ketika masyarakat datang menyampaikan amanatnya kepada pemerintah. Pemerintah dan berbagai unsur masyarakat juga dapat mengambil inisiatif untuk hadir, mendengarkan, serta memahami kehidupan dan kearifan lokal secara langsung.
Dari sudut pandang kebudayaan, perjumpaan semacam ini membuka ruang dialog yang lebih dekat. Nilai-nilai adat dapat dipahami bukan hanya melalui cerita atau dokumentasi, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat yang menjalankannya.
Kehadiran Gubernur Banten dalam kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum silaturahmi budaya. Rangkaian Milad PUB ke-8 juga diisi dengan Gerakan Baduy Lestari melalui program distribusi 70 ribu bibit tanaman untuk kawasan Baduy.
Mulai 13 hingga 24 Oktober 2026, lebih dari 40 ribu bibit tanaman telah didistribusikan melalui tujuh pintu masuk kawasan Baduy. Distribusi untuk satu pintu masuk lainnya direncanakan berlanjut pada November 2026.
Penyaluran dilakukan melalui delapan pintu masuk, yakni Kampung Cipere, Monggor Kanas, Cakuem, Nangerang, Cicakal Girang, Terminal Binong, Terminal Cijahe, dan Ciboleger. Program ini menyasar 68 perkampungan Baduy, terdiri atas tiga kampung Baduy Dalam dan 65 kampung Baduy Luar.
Berbagai jenis tanaman disiapkan, antara lain gaharu, manglid, nangka, jambu, lerak, durian, alpukat, petai, jengkol, aren, albasia, matoa, rambutan, dan beringin. Pemilihan tanaman diharapkan mendukung penghijauan sekaligus memberikan manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat.
Gubernur Banten Andra Soni mengapresiasi inisiatif PUB yang menggabungkan peringatan hari jadi organisasi dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
“Selamat milad ke-8 kepada Perkumpulan Urang Banten. Terima kasih atas prakarsa Gerakan Baduy Lestari, serta kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung dan seluruh pihak yang telah mendukung penyediaan dan penyaluran bibit tanaman,” ujar Andra Soni.
Ia juga mengingatkan pentingnya kearifan masyarakat Baduy dalam menjaga keseimbangan alam.
“Pikukuh atau aturan adat Baduy mengajarkan, ‘Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak’, gunung tidak boleh dihancurkan dan lembah tidak boleh dirusak,” tuturnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Baduy Lestari: pelestarian alam tidak cukup dilakukan melalui penanaman pohon, tetapi membutuhkan pemeliharaan, pengawasan, serta keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Ketua Umum PUB Komjen Pol. (Purn.) Taufiqurrahman Ruki menyampaikan pentingnya memperhatikan keberlangsungan kehidupan masyarakat Baduy, termasuk akses penggarapan lahan yang berkaitan dengan sumber pangan.
“Kalau mereka memiliki hak garap, Insya Allah bisa memiliki sumber pangan,” kata Taufiqurrahman.
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai kelestarian lingkungan perlu berjalan bersama perhatian terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat adat. Alam yang terjaga harus mampu mendukung keberlanjutan kehidupan tanpa mengabaikan ketentuan adat yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Wakil Ketua Umum PUB Bidang Budaya, Ki Yani, berharap Gerakan Baduy Lestari menjadi gerakan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan pembagian bibit.
Menurut dia, keberhasilan program harus terlihat dari bibit yang ditanam, dirawat, dan tumbuh sehingga memberikan manfaat nyata bagi lingkungan serta masyarakat.
Semangat tersebut juga mengandung pelajaran kebudayaan. Masyarakat Baduy menunjukkan bahwa menjaga alam bukan semata-mata program pembangunan, melainkan bagian dari tanggung jawab kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, Ketua DPRD Lebak, jajaran pengurus PUB se-Banten, perwakilan BPDAS Citarum-Ciliwung, BI Banten, Bank Banten, Dinas Pertanian Provinsi Banten, tokoh adat Baduy, serta warga dari berbagai perkampungan Baduy.
Momentum Milad PUB ke-8 ini sekaligus membuka ruang promosi kebudayaan Banten kepada masyarakat luas. Baduy bukan hanya dikenal karena keunikan pakaian, rumah adat, dan tradisi Seba, tetapi juga karena nilai kesederhanaan, ketaatan terhadap pikukuh, serta hubungan yang erat dengan alam.
Kunjungan pemimpin daerah ke Tanah Adat Baduy dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat pemahaman bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu. Kebudayaan merupakan sumber nilai yang relevan bagi kehidupan masa kini, termasuk dalam menjawab tantangan kerusakan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Dalam konteks tersebut, ungkapan “Bapak Gede Saba Baduy” menawarkan pesan sederhana tetapi bermakna: silaturahmi harus berjalan dua arah. Masyarakat adat memiliki ruang untuk menyampaikan amanatnya kepada pemerintah, sementara pemerintah juga perlu membuka ruang untuk hadir, mendengar, dan memahami masyarakat secara langsung.
Milad ke-8 PUB di Tanah Adat Baduy pun menjadi momentum untuk mempertemukan silaturahmi, pelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Dari Seba Baduy hingga “Bapak Gede Saba Baduy”, yang terpenting bukan sekadar siapa yang datang kepada siapa, melainkan bagaimana hubungan tersebut melahirkan kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga alam serta budaya Banten.

0 Comments