
TANGSEL,bantenhariini.com-Masyarakat Kelurahan Parigi dan ormas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Pondok Aren membersihkan sampah yang menutupi jaringan saluran Setu Parigi di Kelurahan Parigi, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangsel, Minggu (12/11/2017). Sekitar 2 bulan sampah tidak diangkut dari lokasi jaringan saluran sehingga ketebalannya mencapai 2 meter dan lebarnya 10 meter.
Sampah yan menumpuk itu berupa sampah kayu-kayu, steryofoam, plastik, bahkan kasur. Masyarakat membersihkannya dengan memanfaatkan perahu dengan saling mengoper sampah. Ada juga yang turun berenang mengumpulkan sampahnya. Lantas sampah yang ada di permukaan saluran setelah diangkat ke atas kemudian di masukan ke dalam karung.
Kasi Kemasyarakatan Kecamatan Pondok Aren Cecep mengatakan, sampah yang ada di jaringan saluran biasanya rutin dibersihkan oleh petugas dari dinas terkait. Itu sekitar 2 bulan lalu.Tetapi sampahnya terus banyak lagi. “Di sini memang potensi sampahnya banyak. Ini karena jaringan saluran air hampir seluruhnya bermuara ke sini,” katanya, kepada bantenhariini.com.
Cecep mengapresiasi kerjabakti yang dilakukan masyarakat sekitar Setu Parigi yang dipimpin Suhanda Kimpo dan LDII Pondok Aren. Menurutnya, inisiatif dan kepedulian ini diharapkan bisa menginspirasi yang lain.
Ketua DPC LDII Kecamatan Pondok Aren Mulyono mengatakan, sebagai organisasi dakwah islam pihaknya berkewajiban memelihara lingkungan. Terutama di lokasi yang terdekat. “Seperti Setu Parigi ini keberadaannya harus tetap lestari,” katanya.
Pihaknya mengklaim anggotanya yang ikut bekerjabakti sekitar 80 orang. Di antaranya ada yang berasal dari ranting LDII tingkat kelurahan. Ia juga berpesan agar masyarakat tidak membuang sampah ke jaringan saluran Setu Parigi.
Abdul Kohar, warga setempat, mengatakan, banyak komunitas peduli Setu Parigi yang lahir lantaran prihatin dengan kondisi setu yang kurang terawat. Tapi aksi mereka hanya pertama saja. Setelah itu tidak muncul lagi. “Kepedulian menjaga setu sebenarnya sudah lama t
dilakukan Suhanda Kimpo beserta anak buah dan masyarakat sekitar setu,” katanya.
Sementara, Suhanda Kimpo merasa senang kini banyak yang lain peduli kebersihan Setu Parigi. Pria berusia 50 tahun ini mengakui memang perawatan setu dilakukannya tanpa pamrih melihat kondisi setu yang tak alami lagi. Seperti rutin membersihkan sampahnya, rumput liar, bahkan aksi penanaman pohon produktif di bantarannya.
“Kami minta pemerintah setempat terbuka hatinya untuk mempercayakan perawatan setu ini ke kami. Bukan kami ingin memiliki tetapi supaya maksimal dalam perawatannya,” katanya. (uchie/setia)

0 Comments