CISUNGSANG, bantenhariini.com – Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang menggelar puncak perayaan Seren Taun yang dilaksanakan setahun sekali sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Pasalnya, Seren Taun merupakan pelaksanakan ritual tahunan dengan menyimpan padi di lumbung setelah panen dilakukan.
Kepala Adat Kasepuhan Cisungsang Abah Usep Suyatma mengatakan, tahapan ritual dimulai dari nibakeun sri ka bumi, ngamitkeun sri ti bumi, salametan rasul pari ti leuit, serah taun, dan cacah jiwa.
“Nibakeun sri ka bumi yang secara harfiah berarti menurunkan padi ke tanah sekaligus ketua kelompok masyarakat adat (rendangan), menyiapkan sejumlah padi dalam bentuk ikatan-ikatan (pocong) untuk dipersiapkan penempatannya di lumbung (leuit) kasepuhan,” katanya, Minggu (13/8/2017)
Dikatakan Usep, pada tahu ini kegiatan seren taun dilakukan di dua titik diantaranya di lingkungan Imah Gede sebagai tempat upacara dan untuk acara hiburan di tempatkan di lingkungan bawah kasepuhan.
“Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara puncak ritual adat seren taun 2017 sedikit kurang meriah dikarenakan kita membagi lokasi kegiatannya,” ujarnya.
Sementara itu Bupati Kabupaten Lebak Iti Octavia Jayabaya menjelaskan, kesatuan masyarakat Banten Kidul menjadi wadah dalam menjaga kearifan lokal masyarakat adatnya.
“Lebak memiliki bergam masyarakat adat yang unik dalam merayakan hari adat budayanya seperti Baduy dan Seren Taun yang tidak hanya menjadi aset bagi Kabupaten Lebak saja melainkan sebagai aset budaya dunia,” katanya.
Ia menambahkan, dalam mendukung sekaligus menjaga adat budaya masyarakat, pemerintah senantiasa menfasilitasi melalui penerbitan Perda tentang perlindungan dan pemberdayaan masyarakat adat.
“Diharapkan acara ritual adat yang dikemas kedalam atraksi budaya ini bisa berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat melalui pendapatan ekonominya,” jelas Iti.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Engkos Kosasih mengungkapkan, mengembangkan dan melestarikan adat kebudayaan cisungsang bisa terus terjaga dengan baik sehingga bisa menjadi warisan budaya yang tetus berlembang.
“Sifat gotong royong dan kepedulian melalui acara ini semoga bisa mempererat tali persaudaraan antar daerah baik dari pemerintah provinsi maupun daerah dengan kalangan masyarakat dan pengunjung,” katanya.
Dikatakannya, Pemprov Banten melalui Dindikbud Provinsi Banten senantiasa memberikan dukungan sehingga bisa terselenggara dengan bagus dan ramai dengan berbagai aktifitas masyarakat didalamnya.
“Kita hadirkan juga literasi taman baca, kuliner dari UKM serta perpustakaan keliling,” katanya.
Dijelaskan Engkos, pemerintah mengusulkan pengajuan Perda terkait pelestarian dan perlindungan adat warisan budaya dalam pengembangan, pembinaan dan pemanfaatan budaya agar terus diperkuat.
“Melalui perda akan diperjelas terkait melindungi masyarakat adat dan lingkungan hidup. Akan dilakukan pembinaan warisan budaya sehingga menjadi salah satu modal adat budaya yang bisa memberikan kontribusi terhadap pembangunan pemerintah,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eneng Nurvahyati mengatakan, budaya adat Banten Kidul merupakan wisata atraksi tradisi seni dan budaya yang dimiliki oleh Banten yang masih menjaga adat leluhurnya.
“Mari bersama menjaga dan melestarikan masyarakat adat yang memiliki nilai kearifan lokal, yang sekaligus dapat menjadi karakter daerah,” terangnya.
Ia mengungkapkan, selain sebagai ritual tahunan, Seren Taun juga menjadi objek wisata budaya lokal. Menurutnya, Seren Taun Cisungsang merupakan kearifan lokal sebagai salah satu jati diri Banten yang harus dilestarikan.
“Saat ini pemerintah terus melakukan perbaikan infrastruktur di Banten Selatan agar geliat di bidang sektor pariwisata terus berkembang sehingga dapat membuka akses bagi wisatawan berkunjung ke destinasi wisata,” katanya. (Sukma)
Editor: Wayang

0 Comments