JAKARTA – Indonesian Public Institute (IPI) bersama Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) menggelar diskusi publik bertajuk “Quo Vadis Arah Pembangunan Nasional?” di Hotel Bintang Baru, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (17/12/2022).
Diskusi ini dimaksudkan sebagai autokritik membangun melalui evaluasi dan proyeksi kebijakan pembangunan nasional. Sehingga, kebijakan-kebijakan pemerintah menjadi semakin terbuka, humanis, demokratis, serta sejalan dengan Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, dan cita-cita Proklamasi.
Direktur LKSB, Abdul Ghopur mengatakan, diskusi ini dilakukan dalam rangka mencari titik temu pemikiran antara berbagai stakeholder, khususnya pemerintah dengan masyarakat (Civil Society).
“Sehingga apa yang menjadi kebijakan pemerintah ini dapat berkesinambungan dengan masyarakat dan dapat menjadi kebaikan bersama,” ujar Ghopur.
Ghopur menyebut, keterlibatan masyarakat dalam kebijakan publik harus lebih banyak dan lebih terbuka lagi. Menurutnya, hal ini penting lantaran menyangkut kehidupan bersama.
Dia berharap, ke depannya Indonesia dapat dibangun secara modern, sehingga memberikan kemaslahatan bersama. Serta, Ghopur menambahkan, pembangunan di Indonesia tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
“Pembangunan pemerintah tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Artinya, semua paralel, semua stakeholder harus dilibatkan. Tidak terkecuali kelompok-kelompok studi, kelompok-kelompok aktivis, kelompok-kelompok kajian,” ungkapnya.
Diketahui, diskusi publik ini merupakan hasil kolaborasi IPI dan LKSB bersama Kedai Ide Pancasila dan Alumni Taplai INTI Lemhanas RI Angkatan I.
Diskusi ini turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Stafsus Menkeu RI Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo, Dosen Pasca Sarjana Cultural Studies FIB UI Lily Tjahyandari, dan Direktur Eksekutif IPI Karyono Wibowo.
Selain itu, narasumber lainnya yakni Ketua Umum Relawan Jokowi (ReJo) Darmizal, Praktisi Hukum Desmen Rahmat Eli Hia, dan Direktur Eksekutif LKSB sekaligus Inisiator Kedai Ide Pancasila Abdul Ghopur.
Diskusi ini pun diikuti oleh eksponen Aktifis 98, Aktifis eks. Organ Cipayung Plus, Majelis Taklim Al-Barokah Bonsay, Anak Kandung Indonesia (AKUI), aktifis pendidikan, budayawan, akademisi, kalangan professional, organisasi mahasiswa dan kepemudaan, Sangkhalifah.com, dan lain-lain. []

0 Comments