IDEOLOGIS DI FORUM, PRAGMATIS DI SAAT MAKAN SIANG


Oleh | Indra Kusumah

Sebagai kaum perubahan yang kian akademis dan doyan retorika. Kegemaran berprilaku ngemil idiom idiom pergerakan untuk meruntuhkan yang tegak tetapi culas, popularitas njenengan kian masyhur di ruang diskusi dan medsos, wah banget, tapi dihadapan pertempuran, pontang panting mencari bendera masa depan yang pantas dikenakan. Begitu masyhurnya, meski dituduh blepotan—-ngeces sana sini, wibawa sebagai kaum yang bergerak itu tetap harus dijaga. Soal borok di kaki, pantat dan muka, menjadi urusan kemudian, sing penting hari esok yang ndak karuan karuan itu dapat diselamatkan, atau hidup yang kian ngos ngosan masih bisa dimanagemen, syukur syukur dikelola sebaik baiknya.

Percaya diri ngamini perilaku kemiring miringan tersebut, makan siang bersama yang tegak tetapi culas ndak perlu diperdebatkan lagi. Hidup harus dilanjutkan, kompromi adalah takarannya. Sebagai profil yang nganan oke ngiri oke, memimpikan keadilan atau hidup makmur di alam demokrasi semacam dogma. Sebagai dogma, mereka yang tegak tetapi culas faham betul bagaimana membeli orang orang pinter seperti njenengan untuk memiskinkan orang orang bodoh. Orang orang miskin faham betul suasana batin tersebut, dengan sabar ndaleminya hingga belasan tahun mengelola nasib nyuapi kekuasaan oligarki yang beranak pianak, yang kini kian tumbuh makmur di kota kabupaten termasuk provinsi.

Bagi si miskin yang dimiskinkan, suasana tersebut semacam tontonan sinetron yang wajib disaksikan di teve butut sambil menikmati mie dan kerupuk. Tapi ya orang miskin, mau diapakan saja tetap memilih bekerja dan berdaya, dibodohi sekalipun. Njih, selepas duet bertahun tahun antara kakak beradik itu di Banten, sekitar tahun 2013 keduanya terpaksa harus sekolah kehidupan di “pesantren KPK”, ada eforia kehidupan lahir batin di Banten, saat itu orang bodoh dan miskin seperti aku merayakan doa doa dengan khusyuk, termasuk mungkin njenengan. Kekuasaan oligarki yang setali tiga uang dengan kapitalisme dan feodalisme, tumbang.

Tapi ya garis nasib orang miskin, terbatas ilmu dan harapannya, belum habis kebahagian tersebut, empat tahun berselang, kekuasaan oligarki yang pernah ditumbangkan hidupnya kini kian bersahaja bersama tuan demokrasi. Bahagia sebab njenengan yang cerdas dan retoris kerap menjadi tamu spesial di acara makan siang keduanya. Bahagia musabab beranak pianak dan bangkit dari stigma. Kota kabupaten dan provinsi menjadi peta peta emperium baru.

Mewakili kemiskinan dan kebodohan yang menerus terstruktur, kami ndak pernah marah dengan suasana serius tersebut, sebab hidup macam apapun yang kami hadapi—-hanya satu modal ideologis kami, bekerja. Meski ndak kaya kaya setiap tahun, kami diliputi kebahagiaan. Termasuk bahagia dan bersyukur bahwa kecerdasan njenengan sebagai kaum perubahanan kian berguna dan bermanfaat memulihkan stigma buruk kaum tegak dan culas kembali pada kekuasaan emperiumnya.

Tentu itu membuktikan kadar kecerdasan intelektual dan moral tinggi yang dimiliki njenengan. Kami sih berharap, agar upaya njenengan meluaskan kekuasaan emperium mereka targetnya ndak saja hanya menempatkannya sebagai bupati walikota, gubernur dan ketua dewan, kalau bisa sampai tingkat Rt/Rw. Ndak saja anak, adik, uwa, paman, menantu, kalau bisa cucu hingga cicit cicit mereka diajari sejak dini menjadi pemimpin dan penguasa.

Minimal diajari cara menempati posisi sebagai ketua kelas di TK, ketua OSIS di sekolahnya, dll. Dan jika semua itu paripurna dilakukan, Insyallah bakal menjadi menu makan siang yang nyami. Ndak percaya? Coba praktikkan kaderisasi tersebut. Njih, soal nasib kami ndak perlu dipikirkan, ndak dipilih atau disiapkan timses dan dibela partai, Gusti Allah merawat kami detik ke detik. Ndak usah hawatir—–kami akan setia nyoblos setiap lima tahunan.

Ndak usah juga dibuat ruwet, sebab kemiskinan dan kebodohan kami bukanlah ancaman, kami selalu berdoa dengan khusyuk semoga kesabaran serta daya hidup selama belasan tahun dapat memakmurkan njenengan dalam memiskinkan dan membodohi kami. Dibodohi dan dimiskinkan adalah berkah bagi kami, itu sebab kami tetapi diliputi bahagia—–bahagia masih bisa makan emi dan kerupuk sambil menonton sinetron di teve butut nyakseni kecerdasan njenengan. Ya wis, catatan ini cukup disini saja, ndak menarik, ndak penting untuk dipikirkan njenengan. Ndak kekinian, ndak sama sekali menyentuh isu isu besar soal agama, kilafiah, radikalisme, musuh Islam, kafir, dll, itu kejauhan.

Tetapi meski jauh, miskin dan bodoh, kami masih tegak menjalankan kewajiban kepada Gusti Allah, meski kadang bolong bolong—–tegak mencintai njenengan, meski terus dimiskinkan dan dibodohi. Meski. Wis ngono wae. (*)

 

Penulis | Penggiat budaya, kartunis dan Ketua Majelis Kebudayaan Cilegon.

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *