Bagi generasi kini, pergeseran dari FOMO ke JOMO menandai perubahan cara pandang terhadap kebahagiaan. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari seberapa sering seseorang hadir di acara sosial atau mengikuti tren viral, melainkan dari seberapa nyaman ia menjalani hidup sesuai dengan nilai dan kebutuhannya sendiri. JOMO mengajarkan bahwa melewatkan sesuatu bukanlah kegagalan, melainkan pilihan sadar untuk menjaga keseimbangan hidup. Pada akhirnya, FOMO dan JOMO mencerminkan dua sikap mental yang sangat berbeda dalam menghadapi dunia digital. FOMO mendorong manusia untuk terus mengejar validasi eksternal, sementara JOMO mengajak untuk berdamai dengan diri sendiri. Di tengah dunia yang semakin bising dan serba cepat, kemampuan untuk memilih kapan harus terhubung dan kapan harus berhenti justru menjadi kunci penting bagi kesehatan mental generasi masa kini.
Referensi :
• Przybylski, A. K., et al. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior.
• Harvard Business Review. How Constant Connectivity Hurts Your Mental Health.
• Wikipedia. Fear of Missing Out (FOMO).
• Kumparan & artikel psikologi populer tentang FOMO dan JOMO.
• Journal of Behavioral Addictions & Computers in Human Behavior.
0 Comments