Basarnas Berikan Pelatihan Pengungsi Warga Negara Asing


CILEGON, bantenhariini.id – Lima tugas pokok Basarnas dalam melakukan penanganan seperti kecelakaan pesawat, kapal, penanganan khusus, tanggap bencana dan membahayakan manusia digelar dalam pelatihan Sar di hotel Grand Mangku Putra pada Kamis 29 Agustus 2019.

Direktur Kesiapsiagaan Basarnas, Didi Hamzar, menjelaskan, pihaknya saat ini memberikan pembahasan isu yang diberikan kepada peserta adalah penanganan pengungsi warga asing.

Dalam latihan ini pihaknya menegaskan bagaimana Basarnas, TNI, Polri, Pemda semuanya bisa bersama-sama bekerja secara kompak dan sesuai aturan agar nantinya niat baik dalam membantu tidak memberatkan negara Indonesia

“Di Banten, isu yang akan kita latihkan kecelakaan pelayaran yang dikaitkan dengan pengungsi warga negara asing. Kadang-kadang mereka tidak mau di evakuasi oleh kita,” katanya.

“Untuk lantasna Banten pelatihan ini memang untuk uji kompetensi Banten untuk isu kecelakaan yang bisa terjadi bagi negara asing,” imbuhnya

Selain itu, dalam menghadapi adanya imigran gerap pihaknya harus memahami kepentingan guna dapat mencegah hal-hal yang akan memberatkan pemerintah Indonesia.

Untuk itu, dalam hal tersebut Basarnas tidak mudah membawa para imigran ke daratan.

“Basarnas harus mencermati mereka punya kepentingan politik, teroris, narkoba atau lainnya. Kita juga jangan gampang membawa mereka ke daratan, karena harus memberi makan dan kebutuhan hidup mereka berbulan-bulan,” paparnya.

Diketahui dalam penanganan imigran sudah diatur sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 125 Tahun 2016, tentang Penanganan Pengungsi Dari Luar Negeri. Dimana isu pengungsi dan pencari suaka telah menjadi sorotan baik dari dalam negeri maupun internasional.

Di Indonesia sudah tercatat ada 13.840 jiwa, yang terdiri dari 9.795 pengungsi dan 4.045 pencari suaka.

Sedangkan data dari United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR), jumlah pengungsi dan pencari suaka dalam beberapa tahun belakangan terus mengalami peningkatan bahkan menjadi krisis pengungsi terparah sejak Perang Dunia ke dua.

Secara geografis, Indonesia terletak pada posisi silang dunia, sehingga menjadi tempat yang sangat strategis untuk transit para pengungsi, terutama pengungsi atau imigran gelap.

“Ini sudah di Perpres kan tentang penanganan isu ini. Jangan juga nanti tugas kita melanggar HAM ataupun memberatkan negara kita,” jelasnya.

“Banten menjadi salah satu pintu masuk yang rawan, dari Aceh sampai ke Bali sampai Kupang, buat Basarnas jangan sampai kita niat menolong orang munculnya memberatkan negara kita, jangan sampai ketika kita nolong warga asing ada dampak sosial nya, ini yang mesti kita cermati,” tandasnya. (DA)

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *