SERANG, bantenhariini.com – Memasuki awal tahun 2018, sejumlah bahan pokok kebutuhan masyarakat di Kota Serang mengalami kenaikan beberapa persen.
Kenaikan itu disebabkan berbagai hal diantaranya cuaca buruk, kelangkaan barang dagangan dan kebijakan pihak tengkulak.
Kenaikan yang terjadi berada di sejumlah pasar di Kota Serang seperti di Pasar Kalodran, Pasar Lama dan Pasar Induk Rau (PIR). Meski hanya beberapa persen, kenaikan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan.
Salah satu pedagang yang ditemui di PIR, Kota Serang, Selasa(2/1/2018). Ubay mengatakan, beberapa kebutuhan masyarakat yang mengalami kenaikan adalah daging ayam, telur, sayuran, dan bumbu dapur.
Menurutnya, naiknya sejumlah kebutuhan warga Kota Serang itu sangat mempengaruhi persentase kegiatan jual beli. Ia menuding, kenaikan tersebut berdampak pada menurunnya jumlah pembeli.
“Dagaing ayam naik beberapa persen doang. Biasanya Rp 30. 000, ini dijual Rp. 34.000. Penyebabnya ya di Bosnya memang naik, saya kan beli di Bos (tengkulak),” kata Ubay yang juga penjual ayam potong itu.
Ia menjelaskan, kenaikan sejumlah bahan pokok di Kota Serang terjadi setiap pergantian tahun. Namun, kebijakan naiknya barang dagangan di Pasar itu, kata Ubay, justru berdampak menurunnya jumlah pembeli dan keuntungan yang di dapat.
“Sudah biasa setiap tahun, PT itu memang pinter, awal tahun dinaikin, ya kalau gak ada pembeli, kita gak bisa ngapa-ngapain, apa adanya aja. Kalau kita rugi paling nambah Bon,” ujarnya.
Berbeda dengan, Miftah, penjual bumbu dapur dan sayur sayuran ini mengaku naiknya barang dagangan dia sudah terjadi sebelum Natal pada 25 Desember lalu. Kemudian, kenaikan juga disebabkan oleh cuaca yang buruk dan minimnya pasokan.
“Kalau cabe biasa, bawang, stabil. Paling wortel biasanya Rp 4 rb naik jadi Rp. 8 rb. Naiknya sebelum Natal. Cuacanya tak menentu, paling siasatnya biar pembeli gak berkurang langganan aja yang ditempel,” ucapnya.
Ia mengatakan, selain kol dan cabai biasa, cabai rawit dan cabai rawit merah juga mengalami kenaikan. Bahkan, ujar pria tak berkacamata itu, rawit merah sempat mencapai Rp 60 rb per kilogramnya.
“Tomat naik, kalu telur udah kembali turun,” tuturnya. (FEB).

0 Comments