TB Hasanuddin: Pelatihan Manajemen Koperasi Lanjut, Latsarmil yang Berisiko Harus Dihentikan


CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 82?

JAKARTA, Bantenhariini.id – Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn.) TB Hasanuddin, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Menurutnya, pelatihan manajemen koperasi tetap diperlukan, namun pendekatan latihan bergaya militer yang telah menimbulkan korban jiwa perlu dihentikan.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul meninggalnya salah satu peserta SPPI, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, saat mengikuti Latsarmil. Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan, hingga saat ini tercatat lima peserta Program SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal dunia selama menjalani pendidikan.

Korban kelima adalah Nola Diasari dari Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan. Sebelumnya, Anisa Muyassaroh dari Balikpapan dilaporkan meninggal akibat heat stroke dan henti jantung, Yonanda Muhammad Taugiq dari Baturaja akibat cardiac arrest (henti jantung), serta Novia Rahmadhani Sihotang dari Jakarta meninggal setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC).

Dengan meninggalnya Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, jumlah peserta yang wafat selama mengikuti program tersebut menjadi lima orang.

TB Hasanuddin menilai, tugas utama calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih adalah mengelola koperasi secara profesional, mengembangkan usaha, memperkuat tata kelola organisasi, serta memberdayakan ekonomi masyarakat. Karena itu, materi pendidikan dinilai harus lebih menitikberatkan pada peningkatan kompetensi yang relevan dengan tugas tersebut.

“Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka,” tegas TB Hasanuddin, Sabtu (27/6/2026).

Menurut politisi PDI Perjuangan itu, kurikulum pelatihan seharusnya difokuskan pada penguatan kemampuan manajerial, kepemimpinan, kewirausahaan, akuntansi, tata kelola koperasi, serta pemberdayaan masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai dengan peran yang akan dijalankan para calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Ia juga menegaskan bahwa tragedi yang telah menelan lima korban jiwa harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan menyeluruh terhadap desain pelatihan Program SPPI. Keselamatan peserta, menurutnya, harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pendidikan.

“Tujuan membangun sumber daya manusia unggul harus tetap tercapai, tetapi tidak boleh mengorbankan keselamatan peserta. Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” pungkasnya.

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *