Gempar Keraton Agung Sejagat, Budayawan UI : Ini Seperti Lelucon


Bantenhariini.id – Sempat membuat heboh masyarakat Indonesia atas kehadiran Keraton Agung Sejagat (KAS). Fenomena tersebut sontak membuat banyak kontroversi di kalangan masyarakat, tidak luput juga budayawan sekaligus akademisi dari Universitas Indonesia Cristina Suprihatin yang berkomentar.

Saat ditemui diruangannya di Depok UI, Rabu (15/1) Cristina mengatakan, munculnya KAS ini menggelitik dan seperti lelucon. Keraton yang lahir di era demokrasi ini menurut Critstina hanya akan membuat kemunduran peradaban yang sudah susah payah dibangun.

“Gini loh pandangan saya melihat fenomena ini menggelitik seperti lelucon saja, karena kita sudah demokrasi tiba-tiba dibawa mundur lagi menjadi sistem keraton. Negara sudah susah payah membangun peradaban dan teknologi yo masa dibawa mundur lagi,” kata Perempuan kelahiran Jogja Tersebut.

Lebih lanjut ia juga mengakui masih ada jejak peninggalan kolonial belanda di Purworejo seperti istilah “Londo Ireng” atau Belanda Hitam. Menurut Cristina, sejarah ini pernah populer di Belanda sana.

“Karena studi saya studi Belanda ada satu poin yang berkaitan dengan purworejo dan hingga saat ini masih ada yakni sebutan Londo Ireng (Belanda Hitam) itu dikarenakan dulu masa kolonial Belanda merekrut tentara dari Afrika Barat untuk memerangi Diponegoro, dan hingga saat ini masih ada di Purworejo bukan orangnya tapi nama kampung Afrikan meskipun sudah tidak ada lagi orang kulit hitam disana,” ungkap Cristina.

Londo Ireng, ungkap Kristina sendiri pernah diangkat menjadi roman sejarah yang sangat terkenal di Belanda yang ditulis oleh Arthuria Pen yang berjudul ‘Si Hitam Dengan Hati Yang Putih’.

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *