Kebijakan Wali Kota Serang Relokasi Pedagang Disebut Tidak Berkonsep


SERANG, bantenhariini.com – Salah satu program 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Serang adalah merelokasi para pedagang yang berjualan di Stadion Maulana Yusuf (MY), Ciceri, Kota Serang, ke kawasan Kepandean Legok Kota Serang.

Namun, rencana yang sudah hampir satu tahun itu belum bisa terlihat wujudannya. Pasalnya Kawasan Kepandean yang dicanangkan akan menjadi ramai oleh pedagang dan pembeli hingga saat ini masih terlihat sepi.

Pembangunan yang dikatakan akan rampung pada awal 2019 ini masih menjadi pertanyaan bagi para pedagang yang harus berhenti berjualan di Stadion Maulana Yusuf.

Dikatakan Budi, Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Kota Serang, Wali Kota terlalu terburu-buru mengejar program 100 hari kerja dengan mengusir para pedagang dari stadion MY ke Kepandean.

Ia mengatakan, program kerja tersebut hanyalah acara seremonial untuk mewujudkan 100 hari kerja pejabat baru Kota Serang.

“Mau bikin konsep jangan cuma pencitraan ini urusannya kan perut orang, sekarang ada gak uang untuk melanjutkan pembangunan, membuat fasilitas? Gak ada geh,” katanya

“Kalau gak ada ketegasan yang ada semraut, sekarang liar didiamkan kalau ditata salah,” imbuhnya.

Budi menambahkan, para pedagang saat ini tidak seperti sebelumnya, pendapatan berkurang dan sulit untuk berdagang akibat dampak dari kebijakan Wali Kota yang tidak memiliki Konsep matang.

“Gak ada lahan pemerintah, lahannya itu hanya Pandean dan Stadion. Kita gak neko-neko dijadwalkan aja misalnya satu minggu sekali di Stadion, kita mau kok, kayaknya lebih baik, jangan main kucing-kucingan. Sebagian pedagang pada cari pasar malem, dan itu butuh biaya besar buat sewa lapak,” jelasnya.

Ia berharap, ada ketegasan dari orang nomor satu di Kota Serang untuk puluhan nasib pedagang yang harus mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Intinya sih saya mah pemerintah dengan ketegasannya jangan menghancurkan hak perut orang, di sini kita kan pedagang cari makan, gak kaya di tempat lain yang jualan isengan buat bayar mobil misalnya,” cetusnya.

“Karena pemerintah gak tegas di situ kan ada permainan sudah kita buktikan dari sini hijrah ke sana, diterima oleh oknum-oknum yang gak jelas, dinas sendiri diam, kan waktu itu pernah kita ribut sama orang di sana, hak pedagang stadion ternyata di sana sudah ada nomor-nomornya. Dinas bicara enak waktu itu gak usah ini (takut premanisme), tapi setelah di pasar ada oknum yang dateng gak ada tindakan apapun, di situ ada Satpol-PP ada kepalanya di depan mata,” tegasnya.

Oleh karena itu, para pedagang merasa dipermainkan dan kecewa, sebab lahan yang sudah dijanjikan untuk para pedagang dari Stadion ternyata sudah ada yang menempati.

“Jadi akhirnya apakah pedagang ini mau diaduin, di sana itu nomor-nomor dikatakan oknumnya sudah ada orangnya, dinas sendiri gak tahu kalau itu sudah ada orangnya tapi kenyataannya setelah pedagang gak mau balik lagi ke sana sampe sekarang gak ada yang nempatin nomor-nomor itu, gak tahu apa mungkin ujungnya nomor-nomor itu bakal dimainkan atau gimana,” sambungnya.

Saat ini, ia menceritakan bahwa keadaan Stadion Kota Serang sangatlah memprihatinkan, sebab karena sepinya pedagang banyak orang-orang yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk hal-hal yang nyeleneh.

“Itu kan program wali wota atau wakil wali kota kebijakannya, jadi sekencang apapun kita berdebat dengan Dinas gak bakalan ketemu, karena ini kendali langsung, sekarang pilihannya ada dua mau buat usaha atau buat esek-esek, di sini jam 20.00 WIB sudah banyak anak muda nongkrong berpasangan-pasangan, penerangan minim, banyak lampu yang mati, jadi untuk berbuat macem-macem dibuka lebar-lebar lagi oleh pemerintah,” tandasnya. (DA)

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *