Tolak Mega Proyek Geotermal, Mahasiswa Dan Masyarakat Aksi Long March


SERANG, bantenhariini.id – Tolak proyek Geotermal sejumlah mahasiswa Banten yang tergabung dalam Syarekat Perjuangan Rakyat (Sapar) melakukan aksi long march dari Serang menuju Jakarta. Mereka menargetkan perjalanannya hingga ke Kementrian ESDM, dan istana Negara.

Hal itu dilakukan hanya untuk dapat menyampaikan aspirasi masyarakat Padarincang, dalam upaya menolak mega proyek geothermal yang berlokasi di gunung Prakasak, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang,

“Kami menilai proyek ini sama sekali tidak memberikan dampak positif bagi warga masyarakat Padarincang khususnya, bahkan keberadaan mega proyek ini merupakan ancaman besar terhadap lingkungan, dan merusak keutuhan alam di Padarincang,” kata Ibas salah satu masyarakat yang mengikuti aksi long march Serang – Jakarta.

Selain itu, adanya proyek geotermal dinilai para mahasiswa tersebut akan mengancam keselelamatan penduduk, karena mega proyek ini terletak ditengah-tengah daerah padat penduduk dan menggunakan areal hutan lindung yang merupakan daerah resapan air dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pemenehuan kebutuhan pengairan pertanian.

“Seharusnya dilindungi dan dilestarikan, bukan dihancurkan untuk kepentingan korporasi dan golongan tertentu yang hanya fokus pada keuntungan semata, dan masyarakat melakukan perlawanan sudah selama 3 tahun untuk menentang mega proyek ini, dan selama itu pula, masyarakat merasa pemda Kabupaten Serang, Pemprov Banten dan wakil-wakil rakyatnya tidak responsif dan bersifat netral,” tegasnya.

Selama ini lanjut, Ibas menjelaskan, para pejabat dinilai malah cenderung berpihak kepada korporasi dengan alibi bahwa mega proyek tersebut merupakan kebijakan pemerintah pusat.

“Ini lah salah satu dasar dilakukannya long march menuju Jakarta dan menunjukkan kesungguhan masyarakat dalam menjaga kelestarian alamnya, serta berharap pemerintah pusat lebih responsif menanggapi aspirasi masyarakat Padarincang,” cetusnya.

“Masyarakat tidak anti pembangunan, tapi selektif memilih bentuk pembangunan yang tidak bertentangan dengan alam, sosio kultural dan tidak mengancam perekomomian rakyat, yaitu bermata pencaharian sebagai petani, baik pertanian, perkebunan rakyat ataupun persawahan yang sangatlah luas yg selama ini menghidupinya,” imbuhnya.

Ia berharap, pembangunan di wilayah Padarincang dapat sinergi dengan kultur yang ada di masyarakat Padarincang.

“Kami mengharapkan suatu bentuk pembangunan yang sinergis dengan kondisi alam tanpa ada yang terancam keberadaanya,” tandasnya. (DA)

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *