PANDEGLANG, bantenhariini.com – 17 anggota tim Trauma Healing Korban Bencana Tsunami Selat Sunda dari Pramuka Kwarda Banten menyambangi dua kampung lokasi bencana di Carita, Pandeglang pada Selasa (1/1/2019). Di hari ke-9 pasca tsunami Selat Sunda ini, anak-anak korban bencana dihibur dengan beragam hadiah donasi dan permainan menarik. Sebanyak 200an paket bingkisan berisi snack, alat tulis dan mainan dibagikan.
Di lokasi pertama yaitu Kampung Cangkara, Desa Sukajadi, Carita, Kabupaten Pandeglang, seratusan anak dari delapan RT yang ada, berkumpul di Madrasah At-Taqwa. Wajah-wajah ceria mereka menghiasi pagi di halaman sekolah yang merupakan satu-satunya sekolah di kampung tersebut. “Sekolah terdekat dari sini jaraknya sekitar dua Kilometer. Sekolah yang satunya jaraknya malah lebih jauh lagi,” kata Sukarsih, salah seorang warga yang mengantar anaknya untuk mengikuti program Trauma Healing. Pasca bencana tsunami, sekolah terpaksa diliburkan meski siswa seharusnya mengikuti jadwal ujian.
Anak-anak korban bencana tampak jelas menikmati kebersamaan dengan para kakak pembina. Pertanyaan demi pertanyaan diselingi tawa, nyanyian, joget hingga senda gurau gembira membuat tiga jam sesi trauma healing terasa sangat singkat. “Siapa yang bisa menirukan sepuluh suara hewan?” tanya Kak Mawadah, salah seorang kakak pembina dari Kwarcab Tangerang yang langsung disambut riuh acungan jari-jari mungil milik anak-anak korban bencana, berebut menjawab. Untuk anak yang maju ke depan, mainan berupa boneka, mobil-mobilan hingga robot baterai pun diberikan sebagai hadiah atas keberaniannya.
Mereka terlihat kecewa ketika tahu sesi Trauma Healing harus berakhir. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena anak-anak ini kembali bergembira saat paket bingkisan berisi makanan dan alat tulis dibagi-bagikan.
Di lokasi kedua yaitu Kampung Tembol, Desa Tembong, Carita, Kabupaten Pandeglang, tim Trauma Healing Kwarda Banten menemui anak-anak korban bencana tsunami lain. Meski di lokasi ini jumlah anak-anaknya lebih sedikit karena hanya terdiri dari tiga RT, hal tersebut tidak menyurutkan semangat kakak-kakak pembina. Bahkan sesi Trauma Healing berlangsung lebih lama dan seru. Ada saja tingkah konyol dan jawaban anak-anak yang mengundang gelak tawa.
Seperti tingkah Rafi, bocah usia enam tahun yang begitu antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kakak pembina. Sayangnya Rafi selalu kalah cepat mengacungkan jarinya sehingga terpaksa kecewa saat hadiah diberikan pada temannya yang lain. Lama-lama Rafi kehabisan kesabaran hingga nekat maju ke depan dan meminta langsung robot hadiah yang sudah ‘diincar’. “Aku mau robot yang itu. Aku nyanyi ya kak,” ucapnya lugu menunjuk mainan di tangan kakak pembina. Kakak-kakak pembina pun tertawa. Rafi akhirnya diberikan kesempatan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mendapatkan hadiahnya. (red)

0 Comments