Pramuka Kwarda Banten Menggelar Kegiatan Trauma Healing Korban Bencana Tsunami Selat Sunda


PANDEGLANG, bantenhariini.com – Pramuka Kwarda Banten menggelar kegiatan Trauma Healing Korban Bencana Tsunami Selat Sunda sejak Sabtu (29/12/2018) hingga Kamis (03/1/2019). Kegiatan dimulai dengan pelatihan fasilitator Psychological First Aid (PFA) di Balai Pembinaan dan Pelatihan Olahraga Provinsi Banten, Drangong, Kota Serang diikuti sesi trauma healing di lokasi-lokasi bencana pada hari-hari berikutnya.

Pada hari pertama kegiatan, difasilitasi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Banten, sebanyak 30 peserta pelatihan mengikuti training yang diberikan oleh dua orang trainer dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Banten dalam pelatihan fasilitator Psychological First Aid (PFA).

Dikatakan Andu Saka Bidang Bina Muda Urusan Satuan Karya Kwarda Banten, Kak Satibi, di hari berikutnya, Pramuka Kwarda memulai pembentukan tim, pembagian tugas dan penentuan titik-titik lokasi target trauma healing serta mempersiapkan kegiatan dan 1355 paket bingkisan berisi snack, alat tulis dan mainan yang dibagikan.

“Sebelas orang anggota tim trauma healing didampingi Andalan Daerah dan DKD Banten pada Senin, 31 Desember 2018 mendatangi Kampung Longok Desa Sindang Laut Kecamatan Carita. Di lokasi ini, pesertanya 79 orang anak-anak usia 12 tahun ke bawah. Sementara di Kampung Cibenda Desa Sukarame Kecamatan Carita, diikuti oleh 79 orang anak. Kami menggelar tanya jawab berhadiah mainan dan boneka, memberikan hiburan (nyanyi&joget) serta membagikan paket bingkisan (snack&alat tulis),” bebernya.

Pada hari berikutnya, lanjut dia, 17 orang anggota tim trauma healing mendatangi Kampung Cangkara, Desa Sukajadi, Carita. 98 orang anak dari delapan RT yang ada berkumpul di Madrasah At-Taqwa. Wajah-wajah ceria mereka menghiasi pagi di halaman sekolah yang merupakan satu-satunya sekolah di kampung tersebut.

Anak-anak korban bencana tampak jelas menikmati kebersamaan dengan para kakak pembina. Pertanyaan demi pertanyaan diselingi tawa, nyanyian, joget hingga senda gurau gembira membuat jam-jam sesi trauma healing terasa sangat singkat.

“Siapa yang bisa menirukan sepuluh suara hewan?” tanya Kak Mawadah, salah seorang kakak pembina dari Kwarcab Tangerang yang langsung disambut riuh acungan jari-jari mungil milik anak-anak korban bencana, berebut menjawab. Untuk anak yang maju ke depan, mainan berupa boneka, mobil-mobilan hingga robot baterai pun diberikan sebagai hadiah atas keberaniannya.

Mereka terlihat kecewa ketika tahu sesi Trauma Healing harus berakhir. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena anak-anak ini kembali bergembira saat paket bingkisan berisi makanan dan alat tulis dibagi-bagikan.

Lalu, anggota tim melanjutkan kegiatan di lokasi kedua yaitu Kampung Tembol, Desa Tembong, Carita, Kabupaten Pandeglang. Tim Trauma Healing Kwarda Banten menemui anak-anak korban bencana tsunami lainnya. Meski di lokasi ini jumlah anak-anaknya lebih sedikit karena hanya terdiri dari tiga RT, hal tersebut tidak menyurutkan semangat kakak-kakak pembina. Bahkan sesi Trauma Healing berlangsung lebih lama dan seru. Ada saja tingkah konyol dan jawaban anak-anak yang mengundang gelak tawa.

Seperti tingkah Rafi, bocah usia enam tahun yang begitu antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kakak pembina. Sayangnya Rafi selalu kalah cepat mengacungkan jarinya sehingga terpaksa kecewa saat hadiah diberikan pada temannya yang lain. Lama-lama Rafi kehabisan kesabaran hingga nekat maju ke depan dan meminta langsung robot hadiah yang sudah ‘diincar’. “Aku mau robot yang itu. Aku nyanyi ya kak,” ucapnya lugu menunjuk mainan di tangan kakak pembina. Kakak-kakak pembina pun tertawa. Rafi akhirnya diberikan kesempatan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mendapatkan hadiahnya.

“Pada Rabu 2 Januari 2019, sebelas orang anggota tim trauma healing didampingi Waka Kwardari, Waka Binamuda, Andalan Daerah dan DKD Banten serta artis cilik, Caren, mendatangi 200 anak di Kampung Cikadu Kecamatan Panimbang dan 41 anak di sekitar Bumi Perkemahan Kwarda Banten di Cikujang, Tanjung Lesung Panimbang,” kata Kak Satibi.

Kak Satibi menjelaskan lagi, di hari terakhir, trauma healing session digelar bersama Tim Psikologi Mabes Polri dan Polda Banten. Delapan orang anggota tim didampingi Andalan dan DKD Banten serta delapan orang Tim Psikologi Mabes Polri dan Polda Banten. Tim mendatangi SDN 1 Carita dan bertemu dengan 183 anak. Di lokasi lainnya Gedung PGRI Carita, tim menemui 142 orang anak.

Diungkap Kak Satibi kegiatan trauma healing yang digelar Kwarda Banten diharap mampu membuat para korban bencana khususnya anak-anak melupakan kejadian buruk dan kesulitan yang telah mereka alami. Selain itu juga, sebagai trigger bagi orang yang mampu agar mau berbagi dengan orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan.[]

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *