SERANG, bantenhariini.com – Adanya stadmen dari Menteri Pariwisata (Menpar) RI, Arief Yahya mengenai larangan hotel berada di bibir pantai, bahkan harus berjarak 100 meter dari sempadan garis pantai.
Bahkan Arief juga berharap, agar Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang mengimplementasikan Peraturan Presiden (Perpres) No. 51 tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai (BSP).
Kemudian tanggapan Menpar RI, Arief Yahya pun langsung direspon positif oleh Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah. Ia mengatakan, bahwa setuju dengan stadmen Menpar RI, karena khawatir dengan keberadaan hotel yang berada di tepi pantai Kecamatan Anyer dan Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang bisa membahayakan.
Maka itu, Tatu pun meminta, supaya Pemerintah Pusat bisa bersama-sama menata hotel dan kawasan wisata Pantai Anyer untuk keamanan dan kenyamanan wisatawan.
“Kami akan mengirimkan surat kepada pemerintah pusat untuk bersama menata kawasan wisata Anyer, termasuk keberadaan hotel yang berada di pinggir pantai,” kata Tatu di sela-sela mendampingi Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Ignatius Jonan di Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Jum’at (28/12/2018).
Tatu menjelaskan, tsunami yang melanda Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang telah meluluhlantakan sejumlah permukiman, beberapa hotel, dan kios-kios milik warga yang berada di tepi pantai.
“Terhadap kios yang ada di tepi pantai, kami akan tinjau ulang untuk kemudian bisa dibangun kembali. Namun tidak lagi di tepi pantai, mungkin di seberang jalan, dan ini butuh lahan dan dukungan Pemerintah Pusat,” ujarnya.
Saat ini, masih kata Tatu, mayoritas hotel di sepanjang pantai Anyer dan Cinangka, sangat mengancam keselamatan wisatawan. “Untuk vila atau hotel yang menempel hingga bibir pantai, diharapkan ada pembagian zonasi dan pemetaan untuk kenyamanan tamu,” jelasnya.
Tatu pun memastikan, warga sekitar kawasan pantai sudah dievakuasi sesuai imbauan Badan Meteorologi dan Geofisika. Yakni mengungsi dengan jarak antara 500 meter sampai 2 kilometer dari bibir pantai. “Kita juga terus pantau perkembangan warga yang mengungsi agar tetap aman,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri ESDM, Ignatius Jonan memastikan, akan memasang alat pengukur ketinggian ombak untuk mengantisipasi gelombang yang naik secara mendadak. Alat ini bisa menjadi bahan pemerintah agar bergerak cepat mengimbau warga .
Setelah melakukan peninjauan di Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Jonan menjelaskan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sesungguhnya tidak terlalu tinggi dibandingkan September lalu.
“Aktivis Gunung Anak Krakatau pada bulan ini tidak ada seperempatnya dibandingkan dengan bulan September dan kita akan cari penyebab tsunami yang sebenarnya,” tegasnya.
Pada kesempatan itu pun, Kementerian ESDM melakukan menambah dua alat seismograph yang akan ditempatkan di Pulau Panjang dan Pulau Rakata sebagai bagian dari lingkar komplek Gunung Anak Krakatau. Penambahan alat itu, bertujuan untuk menambah informasi jika terjadi gempa. (FEB)

0 Comments