SERANG – Gagalnya perhelatan Banten Music Festival yang direncakan pada 4-5 November 2022, memasuki babak baru. Akibat gagalnya festival musik tersebut, para sponsor dan pembeli tiket masih menanti kejelasan pengembalian dana (Refund) yang seharusnya dilakukan pihak penyelenggara.
“Kita dapat penawaran untuk bergabung itu sekitar bulan Juli, namun saat H-4 pelaksanaan festival ada keputusan untuk menunda konser. Karena saat itu ada beberapa konser lain yang kisruh , jadi kita pikir make sense lah,” Hereonimo Ley Matthew Kinzy, salah satu sponsor acara tersebut dalam talkshow Bincang Hari Ini di Sultan TV, Rabu (11/1/2023).
Namun, setelah konser tersebut gagal, tidak ada kejelasan dalam proses pengembalian dana dari panitia Banten Musik Festival kepada para pembeli tiket, sponsor, maupun para seller tiket.
Matthew mengatakan, proses mediasi telah beberapa kali ditempuh. Namun pihak panitia tidak dapat memenuhi janjinya.
“Sejak Desember 2022 kita sudah melakukan penagihan dan mediasi, namun sampai sekarang tahun 2023, kami dari sponsor belum menerima sepeser pun. Kalau saya pribadii total kerugiannya 25 juta,” katanya.
“Selain sponsor dan pembeli tiket, ada juga pihak seller atau penjual tiket yang dirugikan. Karena mereka menyetor semua hasil penjualan ke panitia. Jadi soal refund sudah jadi kewajiban penyelenggara bukan seller, karena uangnya di penyelenggara semua,” katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Banten Musik Festival berhasil menjual sekitar 3.000 hingga 4.000 tiket, dengan rentang harga bervariasi mulai dari 180.000 – 400.000 rupiah. Dengan nominal kerugian yang besar ini, ada beberapa pihak yang telah menempuh langkah hukum.
“Saya dengar memang ada beberapa pihak yang sudah melakukan pelaporan, tapi dari kita masih ingin mengundang pihak-pihak lain yang dirugikan untuk speak up semua,” jelasnya.
“Mau gak mau kita satukan suara dengan sponsor lain dan pembeli, untuk memudahkan proses refund,”tambah Matthew. []

0 Comments