bantenhariini.id – Perayaan Imlek selalu identik dengan Barongsai dan hidangan kuliner khasnya. Nuansa warna serba merah dan percikan kembang api tidak ketinggalan selalu menghiasi Tahun Baru China tersebut.
Pada Imlek 2571 yang jatuh pada Sabtu 25 Januari 2020 ini merupakan Tahun Tikus Logam. Berbagai ramalan shio pun beredar. Dibalik perayaan besar tersebut, di Indonesia sendiri memiliki kisah dan sejarah yang panjang serta menarik untuk diungkapkan.
Dalam perkembangannya, Imlek di NKRI memiliki 4 Fase berkaitan erat denga peran Presiden RI yakni mulai dari Era Ir. Soekarno, Jend. Soeharto, Gus Dur, dan Presiden Wanita pertama Megawati Soekarno Putri.
Dikutip dari Liputan6.com, Pada era Soekarno Hari Raya Imlek merupakan Hari Libur Nasional seperti tertuang dalam ketetapan pemerintah tentang Hari Raya Umat Beragama pada tahun 1946. Disisi lain juga hubungan Indonesia dengan RCC (pada saat itu) menjalin komunikasi yang baik, hal itu karena sosok Soekarno yang memiliki emosional baik dengan China.
Berbeda dengan Presiden Pertama Soekarno, Soeharto hampir bisa dikatakan berubah haluan 180 derajat, pada era ini Imlek, Cap Go Meh dan Barongsai tidak boleh tampil di publik serta perayaan pun hanya boleh di lingkungan keluarga saja. Kebijakan tersebut tertuang pada Intruksi Presiden (Inpres) Pembatasan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tiongkok pada tahun 1967.
Selama kurang lebih 33 tahun warga China tidak bisa merayakan Imlek di RI, kemudian lahir angin segar dari Presiden Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus Dur yang pada tahun 2000 membolehkan Imlek dirayakan di Publik karena dicabutnya Inpres Pembatasan Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tiongkok pada tahun 1967 serta pada 2001 dijadikan Hari Libur bagi yang merayakan melalui keputusan Menteri Agama.
Memasuki fase presiden Megawati, Imlek dijadikan Hari Libur Nasional yang bisa dirayakan oleh banyak kalangan karena kemeriahannya seperti yang tertuang pada Keputusan Presiden (Keppres) Hari Tahun Baru Imlek pada tahun 2002. (AM)

0 Comments