SERANG, bantenhariini.com – Sebuah bekas kandang kambing menjadi tempat tinggal Sarbini dan 13 anaknya di Desa Dukuh, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Banten. Keluarga itu tidur hanya dari aneka plastik atau busa dan sebagian terpal. Tidak ada daun jendela dan pintu di bangunan ini. Sebagian anak lelakinya yang besar setiap malam tidur di sini.
Keluarga Sarbini tinggal di dua gubuk yang masuk kategori tidak layak huni. Gubuk pertama adalah tempat tinggal yang hanya beratap plastik dan terpal, yang merupakan bekas kandang kambing. Di gubuk ini, anak-anak lelaki Sarbini setiap hari tinggal sekaligus tidur setiap malam. Di sini pun tidak ada jendela, apalagi kunci pintu. Semuanya melompong karena hanya memiliki tembok kawat serta sebagian bambu.
Di belakangnya, gubuk lain berukuran 3×3 oleh Sarbini digunakan untuk kamarnya dan anak-anak kecil. Di dalamnya, tak ada jendela kecuali hanya bambu yang dipasang setengah agar ada ventilasi udara. Semua sudut ruangan oleh Sarbini digunakan untuk gantungan baju, celana, jam dinding, tas kumal, juga kalender dan plastik. Di luar itu, dapur kecil tanpa penutup apa pun bersebelahan dengan kandang bebek dan kolam yang sudah seperti comberan.
Satu gubuk lain berukuran 3×3 meter yang juga cuma dari bambu Sarbini gunakan untuk dirinya dan anak-anak yang kecil. Di gubuk ini ia pun hanya menggunakan plastik atau bekas spanduk sebagai penahan hujan. Gubuk itu ia gunakan sebagai ruangan sekaligus untuk menumpuk aneka pakaian.
Sarbini bercerita, semenjak istrinya Tikah meninggal pada 2012, ia harus mengurus ke-13 anaknya seorang diri. Tiga anak paling besar sudah menikah, termasuk 1 orang yang saat ini menjadi TKI di kebun sawit di Malaysia. Sisanya semua anaknya diurus sendiri di dua gubuk yang satunya bekas kandang kambing.
Selama kurang-lebih 3 tahun keluarga Sarbini tinggal di gubuk itu. Banjir yang merobohkan rumah lamanya memaksa lelaki 13 anak ini menyulap kandang kambing menjadi tempat tinggal. Satu gubuk lain ia gunakan untuk anak-anaknya yang kecil.
Sarbini menuturkan, 3 tahun lalu Kali Ciujung yang melewati Kampung Palembangan dibuat tembok pembatas. Tembok tersebut dibikin untuk menahan air Kali Ciujung masuk ke perkampungan. Namun, begitu hujan dan banjir tiba, air malah menggenang sampai merobohkan rumahnya. Rumah lama hancur, Sarbini pun mengungsi ke kandang kambing dan ia jadikan gubuk tempat tinggal.
“Terakhir banjir, sebelum rumah roboh, ya sudah ada di sini tempat kandang kambing. Berhubung rumah roboh, kandang dibuat rumah,” kata Sarbini. (Baht/Anda/DTK)

0 Comments