Serang, bantenhariini.com – Pasca tsunami Selat Sunda yang terjadi di Provinsi Banten dan Lampung, diperlukannya penataan ulang huniaan yang ramah bencana, supaya dapat menghindari korban jiwa yang berjatuhan, dan kerusakan yang sangat parah. Hal itu disampaikan oleh Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten, Mukoddas Syuhada saat menjadi tamu dalam Talk Show, Griya Abah di kantor Sultan Tv, Jalan Syeh Nawawi Al-Bantani, Jum’at (4/1/2019).
Dalam acara yang bertema “Inovasi Bangunan Tahan Becana” itu, Mukoddas menjelaskan, bahwa bangunan yang ramah bencana sangat penting, karena bisa menditeksi tanda-tanda bencana akan terjadi.
“Mulai dari gonjangan gempa bumi, hingga akan mau adannya tsunami. Jadi masyarakat bisa mengantisipasinnya, dan berwaspada,” katanya.
Kemudian untuk bahan-bahan yang diperlukan untuk hunian ramah bencana, kata Mukoddas, berasal dari alam. Mulai dari bahan bambu, hingga ranting pohon kering. Dengan tipe 50 dan 90 persen bahannya adalah bambu.
“Ini pun sudah melakukan pengujian. Bahkan konsepnnya bisa bongkar pasang. Sehingga siapa pun bisa membangunnya, dan menjadi sebuah Kreatifitas masyarakat Banten,” jelasnya.
Lalu fungsi dan tujuan dari Hunian Ramah Bencana, masih kata Mukoddas, adalah untuk menghidupkan kembali kebersamaan di masyarakat Banten, dengan cara gotong royong.
“Saya kira dengan begitu. Bisa mengidupkan kembali kehidupan pengungsi, yang mengalami gangguan psikis dan pikiran. Makanya mentalnnya pun harus kita bangun kembali, melalui program Hunian Ramah Bencana,” tandasnya.
Pada kesempatan itu, Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Banten menyarankan, agar Pemerintah Daerah memasukan Edukasi bencana kedalam kurikulum Pendidikan. Sehingga masyarakat Banten bisa memahami bencana alam sejak dini. (FEB)

0 Comments