Tradisi Perang Pasola, Perayaan Jelang Musim Panen di Sumba


Umumnya perang merupakan sebuah hal yang sangat dihindari. Tak dapat dipungkiri bila peperangan menyebabkan banyak penderitaan. Tetapi ada beberapa perang di Indonesia yang justru ditunggu-tunggu dan rutin digelar, Pasola mislanya.

Pasola merupakan sebuah tradisi yang dilakukan setahun sekali oleh warga Kampung Kodi, Kampung Lamboya, Kampung Wanokaka, dan Kampung Garoa di wilayah Sumba Barat. Tradisi berupa adu ketangkasan menggunakan kuda dan lembing ini merupakan puncak acara dari Pesta Adat Nyale yang dilakukan untuk memohon restu terhadap dewa dan nenek moyang menjelang musim panen tiba.

Dalam pelaksanaan Pasola, dua “Ksatria Sumba” akan menunggangi kuda dan menyerang satu sama lain menggunakan tongkat kayu. Darah yang jatuh pada arena Pasola dianggap mampu membuat tanah mereka subur sehingga hasil panen berlimpah. 

Dalam tradisi ini, wisatawan bisa menyaksikan langsung atraksi perang tombak antar suku dengan menunggang kuda. Tombak yang digunakan juga bukan tombak yang tajam, namun tetap saja akan ada yang terluka, entah Kuda tunggangan ataupun para peserta Pasola.

Kisah Percintaan Tragis Asal Mula Pasola

Tradisi ini tidak lepas dari kisah seorang janda cantik bernama Rabu Kaba di Kampung Waiwuang. Ia adalah janda dari Almarhum Umbu Dulla, dan kemudian mempunyai suami bernama Umbu Amahu salah satu pemimpin kampung itu.

Kemudian Umbu Amahu pergi mengembara dengan dua pemimpin lainnya yaitu Ngongo Tau Masusu dan Bayang Amahu. Karena tak kunjung kembali, tiga pemimpin tersebut dianggap telah meninggal.

Pada masa itu Rabu Kaba terpikat oleh pria lain dari kampung Kodi, Teda Gaiparona. Namun cinta mereka tak direstui oleh keluarga sehingga mereka memutuskan untuk kawin lari. Suatu ketika, tiga pemimpin kampung Waiwuang kembali termasuk Umbu Amahu suami Rabu Kaba.

Rabu Kaba yang sudah jatuh cinta dengan Teda Gaiparona tidak ingin kembali dengan Umbu Amahu. Akhirnya Umbu Amahu memerintahkan warga Waiwuang untuk mengadakan tradisi menangkap nyale(cacing laut) dan Pasola untuk melupakan kesedihan tersebut.

Rangkaian Proses Upacara Adat Pasola

Sebelum pelaksanaan ritual Pasola, masyarakat Sumba Barat melakukan tradisi nyale terlebih dahulu. Pada tradisi ini, masyarakat memancing cacing laut di tepi pantai. Tradisi ini dilakukan saat bulan purnama berlangsung. Tanpa mendapatkan nyale, Pasola tidak dapat diberlangsungkan.

Pasola diadakan di tanah lapang yang sangat luas. Perang antar suku ini biasanya melibatkan lima puluh sampai seratus peserta. Masing-masing peserta menunggang kuda sambil membawa tombak bambu berukuran 1,5 m.

Tombak bambu yang digunakan memang tidak tajam, namun tetap saja bisa menyebabkan korban jiwa. Mereka akan beradu diatas kuda yang dipacu kencang sambil mengayunkan tombak masing-masing hingga lawan terjatuh.[]


0 Comments

Your email address will not be published.

Slot gacor terbaru Slot gacor hari ini Link slot gacor