Ketum IWAPI Pusat Resmikan Kampung Hortikultura di Greenlight Garden Waringinkurung‎


SERANG, bantenhariini.id – Ketua Umum DPP Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Nita Yudi, secara resmi meluncurkan program Kampung Hortikultura di kawasan Greenlight Garden, Desa Sukabares, Kecamatan Waringinkurung, Banten, Sabtu, (22/8/2026).‎‎

Program ini dijadikan pilot project nasional yang mengandalkan kekuatan gerakan perempuan pengusaha untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.‎

Nita menegaskan bahwa peran perempuan sangat strategis dalam pembangunan pangan karena sifatnya yang ulet, fokus, dan berdedikasi tinggi.‎‎

Langkah ini sejalan dengan prioritas utama Pemerintah Pusat di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan dan energi.‎

“Kami ingin IWAPI menjadi pelopor gerakan pangan perempuan. Gerakan ini bukan sekadar simbolis, melainkan kerja nyata IWAPI untuk negeri,” ujar Nita.‎

‎Dalam pertemuan tersebut, Nita menyambut baik usulan pengembangan tanaman durian yang dinilai memiliki masa panen relatif cepat dan menguntungkan.

‎‎Ia membuka peluang bagi pemilik lahan seluas 1 hingga 10 hektar di seluruh Indonesia untuk mengajukan permohonan bibit yang akan disiapkan dan didampingi oleh DPP IWAPI guna menjamin keberhasilan tanam.‎

Selain tanaman komoditas besar, IWAPI juga menggalakkan pertanian perkotaan (urban farming) dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam padi dan sayuran guna memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.‎

‎IWAPI yang telah berdiri selama 51 tahun kini memiliki jangkauan luas di 38 provinsi dan 259 kabupaten/kota, serta memiliki perwakilan di luar negeri. Jaringan ini juga akan diperluas hingga ke Singapura, Australia, Korea, dan Washington DC.‎

Kepercayaan pemerintah juga ditunjukkan dengan penunjukan IWAPI sebagai titik fokus ASEAN Women Entrepreneur Network (AWEN) untuk se-Asia Tenggara serta perwakilan Indonesia dalam Women Business Alliance BRICS.

Hal ini membuka peluang ekspor produk hortikultura dan hasil olahan perempuan pengusaha Indonesia.‎

‎Ia menjelaskan alasan pemilihan Kabupaten Serang sebagai lokasi perdana karena ketersediaan lahan yang memadai dan lokasi yang strategis.

Ke depannya, model ini akan direplikasi ke seluruh pelosok negeri hingga Papua Barat Daya.‎ ‎Adapun kendala yang dihadapi adalah akses terhadap lahan.

Oleh sebab itu, Nita mengimbau para suami, pemerintah daerah, maupun pihak TNI untuk merelakan lahan tidur yang dimiliki agar dapat dikelola secara produktif oleh perempuan.‎

“Kunci keberhasilan ini adalah kolaborasi. Mari kita berikan ruang bagi perempuan untuk mengelola sumber daya dan membuktikan bahwa mereka mampu berkontribusi besar bagi kesejahteraan ekonomi keluarga dan ketahanan pangan bangsa,” tandasnya. (Red/ Roy)‎

Comments

comments


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *