SERANG, bantenhariini.id — Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas, menanggapi rencana pelaksanaan tradisi Bedolan Pamarayan yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Oktober 2026.
Dalam pernyataannya, Najib menyampaikan harapan agar tradisi budaya yang sudah turun-temurun ini tetap dapat berjalan dengan tertib sekaligus memperhatikan aspek teknis pengelolaan bendungan.
“Kita harapkan masyarakat khususnya Pamarayan kalaupun jadi dilaksanakan tanggal 17 informasinya, tetap dilaksanakan dengan tertib. Jaga kekompakan karena ini adalah bagian dari budaya yang terus kita upayakan berlangsung,” ujar Wabup Najib kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, secara teknis pengosongan bendungan sepenuhnya dikhawatirkan berdampak pada suplai air ke kawasan persawahan di wilayah utara Kabupaten Serang.
Oleh karena itu, kesepakatan yang tercapai adalah pelaksanaan bedol tidak dilakukan secara penuh.
“Kalau lihat di berita menurut informasi dari Balai Besar, bahwa memang ini kalau secara teknis kalau bedol artinya dikosongkan semua, itu akan berdampak secara teknis adalah suplai air di kawasan persawahan di utara itu akan mengalami kendala. Nah, titik temunya adalah tetap bedol desa tapi tidak full,” jelas Najib.
Ia menyampaikan bahwa besaran penurunan permukaan air bendungan akan disesuaikan dengan pertimbangan teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3), yang merupakan instansi berwenang dalam hal pengelolaan bendungan ini.
Keputusan tersebut bukan kewenangan Pemerintah Kabupaten Serang, melainkan tetap mengacu pada hasil analisis teknis pihak BBWSC3.
“Nanti sesuai dengan teknis dari Balai Besar apakah hanya satu meter atau berapa itu nanti kewenangan Balai Besar karena bukan program Pemda. Nah, itu biasanya yang sudah menganalisa itu adalah pihak BBWSC3,” tambahnya.
Politisi PKS ini mengajak seluruh masyarakat Pamarayan untuk tetap menjaga kekompakan dan kelestarian tradisi ini, sekaligus memahami bahwa penyesuaian yang dilakukan semata-mata demi kepentingan bersama, termasuk menjamin ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian warga.
“Jaga kekompakan karena ini adalah bagian dari budaya yang terus kita upayakan berlangsung, tapi harus sesuai dengan kondisi teknis bendungan,” pesan Najib.
Najib berharap pelaksanaan Bedolan Pamarayan yang dijadwalkan pada 17 Oktober 2026 dapat berjalan lancar, aman, dan tetap menjaga keharmonisan masyarakat setempat.
Diinformasikan bahwa tradisi Bedolan Pamarayan sempat dibatalkan pada 10 Oktober 2026. Namun akhirnya dijadwalkan ulang menjadi 17 Oktober 2026 setelah diprotes warga dan dimediasi oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Serang, kepolisian, serta BBWSC3.
Pembatalan pembukaan pintu air Bendungan Pamarayan karena kekhawatiran risiko longsor akibat abrasi dan keselamatan warga di bantaran sungai.
Pembatalan ini memicu aksi protes ratusan warga hingga penutupan Jembatan Pamarayan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, mengingat tradisi ini merupakan bagian dari perayaan HUT ke-500 Kabupaten Serang.
Melalui mediasi yang dipimpin Kapolres Serang bersama Pemkab Serang dan pihak terkait, disepakati bahwa tradisi Bedolan Pamarayan akan dilaksanakan kembali pada 17 Oktober 2026 pukul 10.00–13.00 WIB dengan pengoperasian terbatas Bendung Gerak Pamarayan Baru. (Red/ Roy)

0 Comments