SERANG — Usai menghadiri Sidang Paripurna Hari Jadi Provinsi Banten ke-26 pada Minggu, 4 Oktober 2026, Anggota DPRD Banten Fraksi PKS, Budi Prayogo, menyoroti persoalan krusial yang masih menjadi tantangan utama di wilayahnya, yakni tingginya angka pengangguran serta disparitas tingkat partisipasi sekolah.
Budi Prayogo memaparkan bahwa permasalahan pengangguran di Banten utamanya bersumber dari dua hal utama.
Pertama, anak-anak yang lulus sekolah namun tidak tertampung di dunia kerja. Kedua, anak-anak yang putus sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan dasar (SD-SMP) atau menengah, yang kemudian langsung masuk ke usia kerja tanpa terserap dengan baik.
“Angka partisipasi sekolah di tingkat SD mencapai 97 persen, sementara SMP masih di angka 90-an persen. Begitu masuk SMA, angka tersebut turun menjadi 78 persen. Ada gap sekitar 20 persen antara tingkat SMP dan SMA yang setiap tahunnya langsung masuk dan berproduksi menjadi angka pengangguran,” ujar Budi Prayogo.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa banyak lulusan SMP di Banten yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA atau SMK dan langsung memasuki usia kerja di kisaran usia 16 hingga 17 tahun. Akibatnya, kelompok usia muda ini langsung menyumbang angka pengangguran terbuka karena minimnya keterampilan formal yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Tantangan Kawasan Industri dan Solusi Investasi Sebagai wilayah yang menjadi magnet bagi kaum urban dan pendatang—terutama kawasan padat seperti Tangerang Raya dan Serang Utara—Budi menilai penutupan sejumlah pabrik turut memperparah situasi ketenagakerjaan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa langkah konkret untuk menekan angka pengangguran adalah dengan terus mendorong masuknya investasi dan pembangunan infrastruktur.
Dengan infrastruktur yang baik, kawasan industri baru seperti di Cileleles dapat berkembang, sehingga akses jalan tol semakin terbuka dan harga tanah tetap kompetitif bagi investor.
“Konsepnya adalah buka investasi, buka kawasan industri, tenaga kerja masuk, sehingga ruang pengangguran berkurang. Kami terus mendorong investasi masuk untuk mengatasi hal ini,” tambahnya.
Evaluasi Sistem Zonasi dan Pentingnya Sekolah FavoritSelain masalah ketenagakerjaan, Budi juga menyoroti sistem zonasi pendidikan yang berlaku saat ini.
Menurutnya, sistem zonasi kerap memunculkan masalah psikologis dan motivasi bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Ia berpendapat bahwa keberadaan “sekolah favorit” sebenarnya memiliki fungsi positif dalam menciptakan iklim kompetisi dan motivasi belajar yang sehat bagi para siswa.
“Dulu saya sekolah di SMA favorit. Untuk sampai ke sana, saya harus berjuang dan belajar keras sejak kelas satu SMP agar bisa ranking. Adanya sekolah favorit membuat sistem motivasi berjalan dan meningkatkan kualitas melalui kompetisi,” jelas Budi.
Ia membandingkan sistem tersebut dengan pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang murni menguji kemampuan belajar siswa secara objektif (nilai murni).
Ia berharap ke depan sistem evaluasi pendidikan dapat lebih adil dalam mengukur kemampuan akademik murni siswa tanpa mematikan semangat kompetisi.
Di akhir penjelasannya, Budi Prayogo berharap pemerintah daerah dapat terus bersinergi merumuskan kebijakan yang komprehensif, tidak hanya dalam penyediaan lapangan kerja melalui hilirisasi industri, tetapi juga perbaikan kualitas sistem pendidikan guna melahirkan sumber daya manusia Banten yang berdaya saing tinggi.***

0 Comments