SERANG, Bantenhariini.id – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kembali harus dihentikan lantaran melonjaknya kasus COVID-19, terutama varian Omicron. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penularan virus corona pada anak-anak.
Di sisi lain, sekolah daring (online) menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, terlebih tidak semua orang tua mampu mendampingi dan memberikan pembelajaran pada anaknya.
Ketua Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia (APSI) Banten, Tia Rahmania mengatakan, sampai dengan anak-anak berusia 10 tahun, pembelajaran jarak jauh atau sekolah daring menjadi kondisi terberat bagi orang tua.
“Karena keterlibatan orang tua pada proses [sekolah online] ini, lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak yang di atas 10 tahun. Anak-anak di atas 10 tahun relatif sudah mandiri,” ungkap Tia.
Menurutnya, anak-anak di bawah 10 tahun masih memiliki kendala, seperti kemampuan konsentrasi saat duduk diam di bangku yang belum panjang dan pemahaman soal harapan orang tua dan sekolah terkait tugas-tugasnya.
Meskipun demikian, dalam mendampingi belajar anak-anak di atas 10 tahun, orang tua juga harus menghadapi tantangan tersendiri. Sehingga, orang tua dituntut untuk bersinergi bersama dalam mengatasi permasalahan tersebut.
“Bahkan di jenjang perguruan tinggi pun, berdasarkan penelitian yang didapat, tetap akan ada tantangannya terkait pembelajaran jarak jauh, seperti kebosanan, kehilangan interaksi langsung dengan teman-teman, soal bimbingan skripsi, termasuk masalah kuota internet,” imbuhnya.
Tia menekankan, untuk menghadapi permasalahan pembelajaran jarak jauh, masing-masing individu marus mampu menyikapinya dengan baik dan dapat beradaptasi dengan kondisi ini. []

0 Comments