SERANG, bantenhariini.com – Skill Development Center (SDC) Provinsi Banten menilai salah satu Faktor penyebab tingginya angka pengangguran di Provinsi Banten adalah, belum ketemunya Kebutuhan Industri dengan Kurikulum Sekolah SMK. Sehingga membuat semakin banyaknya pengangguran di Provinsi Banten.
Oleh karena itu, keberadaan SDC di Provinsi Banten diharapkan dapat menekan angka pengangguran di Provinsi Banten. Dengan berbagai cara dan Progran yang dilakukan oleh SDC.
Direktur Utama Skill Development Centre (SDC) Provinsi Banten Khozin mengatakan, pihaknya mengakui bahwa salah satunya adalah tidak ketemunya kurikulum yang dibutuhkan Industri dengan kurikulum SMK. “Salah satu penyebab tingginya angka pengangguran di Banten adalah tidak ketemunya kurikulum yang dibutuhkan Industri yang ada di SMK. Oleh karena itu saya mencoba menyelsaikan persoalan itu dengan berbagai cara,” ujar Khozin saat ditemui usai kegiatan Workshop Internasional di salah satu hotel di Kota Serang, Sabtu, (15/12/2018).
Menurutnya, sampai saat ini di Provinsi Banten belum ada kurikulum yang dapat menjadi penguat dalam persoalan pengangguran di Provinsi Banten. Maka dari itu saat ini SDC Banten sedang Konsentrasi Penuh melalui Program Tri in One dengan cara memberikan pelatihan kembali untuk para siswa-siswi Lulusan SMK. Yang tujuannya untuk penyelarasan kurikulum dengan cara memberikan pelatihan kembali. “Ini merupakan problem yang harus kita perbaiki, melalui Program Tri In One dimana program tersebut untuk menyelaraskan kurikulum. Jadi kurikulumnya akan sama, bukan hanya muridnya saja yang akan diberikan pelatihan namun para gurunya juga akan menerima pelatihan,” jelasnya.
Dirinya mengungkapkan, Sekolah SMK di Provinsi Banten lebih banyak di Kelola oleh pihak suasta, sehingga dengan begitu pemerintah tidak dapat memiliki hak penuh dalam mendidik anak SMK di Provinsi Banten. “Anak muda kita ini, faktanya Murid SMK di Banten lebih banyak di didik oleh pihak suasta, sehingga pemerintah tidak punya hak penuh dalam mendidik murid SMK,” ujarnya.
Sementara, Lanjut Khozin, sampai saat Pemerintah Provinsi Banten baru mampu membuat Sekolah Sebanyak 72 Sekolah SMK Negri dari sekitar 600 Sekolah SMK yang ada di Provinsi Banten. “Kita baru mampu membuat sebanyak 72 SMK Negri dari 600 Sekolah SMK yang ada di Banten, artinya hanya mampu 10 persen milik Negri 80 persen milik Suasta. Meski demikian pihak suasta juga memiliki kontribusi untuk mendidik. Namun yang terpenting bagi SDC adalah untuk memberbaiki sekolah suasta agar menjadi lebih baik,” tandasnya.
Sementara itu, ditempat yang sama Direktur Utama (Dirut) Tenaga kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas) Mahatmi Parwitasari Saronto mengatakan, untuk mengentaskan pengangguran di Provinsi Baten. Saat ini pihaknya tengah bekerja sama dengan empat Kementrian diantaranya, Kementrian Bappenas, Kementrian Perindustrian, Kementrian Tenaga Kerja, dan Kementrian Pendidikan. “Kami mencoba dengan Forum SDC ini, menemukan 4 Kemntrian itu supaya saling berbagi Informasi, jadi kalo misalnya sudah di Identifikasi lulusan di suatu tempat. Maka dengan begitu, apabila Disnaker dapat meng identifikasi luluas di suatu tempat maka dapat menerima pelatihan ditempat yang sesuai dengan kemampuanya,” katanya.
Dirinya juga mengakui bahwa, angka penganguran di Provinsi Banten masih termasuk tinggi, meski demikian ini akan menjadi sebuah tantangan. Maka harus di sambut dengan baik agar para pengangguran di Banten segera mendapatkan pekerjaan. “Kalo di Banten sendiri, sebagai mana kita ketahui bersama tingkat penganguran terbukanya masih sangat tinggi. Oleh karena itu, ini merupakan tantangan agar mereka dapat memikirkan bagaimana caranya untuk memberikan akses agar mereka mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.
Mahatami mengungkapkan, penyebab banyaknya pengangguran di Provinsi Banten adalah karena Banten menjadi Pusat Industri sehingga membuat banyaknya pendatang ke Banten tanpa memikiki Skill yang cukup. “Banyak pendatang yang datang ke Banten tanpa memiliki Skill yang cukup sehingga mereka tidak dapat diterima di industri yang mereka inginkan akhirnya mereka tetap tinggal disini dan menjadi pengangguran,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Mahatami. Upah Minimum Pekerja (UMP) di Provinsi Banten yang tergolong tinggi juga menjadi faktor banyaknya pengangguran di Banten. “Jadi yang sebenernya Industri itu menginginkan pekerja yang memiliki Skill yang cukup, kalo misalnya skillnya itu tidak cukum maka akan pergi mencari tempat yang bisa menyediakan upah yang murah dengan keahlian yang terbatas,” ucapnya.
Dirinya menyampaikan, untuk mengentaskan pengangguran di Provinsi Banten, Bappenas akan terus mendorong pemerintah agar dapat menekan angka pengangguran di Banten. “Kita mencoba mempertemukan semua pelaksana, agar semuanya dapat bekerja sama dalam mengentaskan pengangguran di Banten,” pungkasnya. (Rohman)

0 Comments